Bidikmisi.
Seperti pelita dalam kegelapan. Tentang jalan dari sebuah harapan. Tentang cita yang bukan hanya asa belaka.
Bidikmisi adalah sesuatu yang sangat berarti. Bidikmisi memberi kesempatan bagiku untuk benar-benar merasakan bangku perkuliahan. Ya, sebuah tempat yang paling aku impikan. Berulang kali aku hanya lewat saja di sekitarnya. Kini, aku bersyukur, aku dapat menjadi bagian darinya. Universitas Gadjah Mada. Dan inilah sepenggal kisahku.
Perkenalkan, namaku Titi Marsifah. Aku berasal dari salah satu desa di Kabupaten Kulon Progo. Aku anak pertama dari dua bersaudara yang terlahir dari keluarga sederhana. Bapak bekerja sebagai tukang serabutan dan buruh tani. Demikian pula dengan Ibu, yang lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga. Namun, bukan berarti hal itu membuatku surut dan patah semangat untuk menjejaki perguruan tinggi. Kedua orang tuaku pun selalu mendukung dan bekerja keras untuk memberikan pendidikan terbaik bagi kami. Ya, mereka ingin agar aku dan adikku berpendidikan tinggi, lebih dari bapak ibu yang lulusan hanya SD saja.
Setelah lulus SMP, aku melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 1 Sentolo. Awalnya orang tua tidak ingin aku bersekolah disana. “Mengapa tidak ke SMK saja? Lebih dekat dan murah. Sekolah di SMA pasti mahal dan perlu kuliah,” katanya. Tentu saja aku paham maksud dari apa yang beliau katakan. Hingga menjelang akhir masa pendaftaran, pertolongan Allah datang. Aku diizinkan masuk ke SMA. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur saat itu.
Selama bersekolah di SMA, aku memperoleh beasiswa mulai dari awal pertama masuk hingga tamat sekolah. Aku berusaha keras untuk berprestasi di SMA. Aku ingin membuktikan kepada orang tuaku bahwa aku mampu, paling tidak menjadi juara kelas. Ada rasa bangga, ketika orang tuaku datang mengambil rapot, ada namaku tertera di kolom teratas. Alhamdulillah. Terlebih ketika hari pengumuman kelulusan dan perpisahan tiba, aku mampu membuat senyum ibu tersungging jelas di hadapanku. Aku duduk di deretan bangku terdepan. Dipanggil namanya pertama, dan berjabat tangan langsung dengan Bapak Kepala Sekolah.
Tentang beasiswa bidikmisi, aku sudah pernah mendengarnya sebelum guru Bimbingan Konseling (BK) menyampaikan informasi tersebut saat kelas XII SMA. Sekilas yang aku tahu, bidikmisi memberikan bantuan dana, biaya kuliah dan biaya hidup. Aku semakin termotivasi dan yakin bahwa ada jalan bagiku untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Ketika memasuki masa pendaftaran SNMPTN, aku juga harus mempersiapkan berkas-berkas persyaratan pendaftaran bidikmisi. Ada kalanya, aku meminta bantuan kedua orang tuaku yang senantiasa memberikan dukungan penuh untukku. Namun, pada hari H pengumuman, aku dinyatakan tidak lolos jalur SNMPTN. Kecewa? Pasti. Tetapi aku tidak mau terpaku pada satu kegagalan ini. Masih ada jalur lain yang dapat aku tempuh. Motivasiku sederhana, aku ingin menaikkan derajat kedua orang tua agar mereka tidak diremehkan karena keterbatasan ekonomi dan pendidikan. Aku ingin membuktikan bahwa orang sepertiku juga mampu berkuliah.
Keinginan itu memacu semangatku untuk lebih gigih dalam belajar. Buku belajar seadanya, itupun aku dapat dari hasil meminjam teman. Terkadang, aku meminta softfile latihan soal SBMPTN yang biasanya ada dalam satu paket buku soal. Bahkan, lebih sering mencari soal melalui internet yang dapat aku peroleh dengan mudah.
Sebelum pengumuman tiba, aku mencoba mendaftar di berbagai universitas, baik negeri dan swasta. Alasannya, aku berjaga-jaga, apabila aku tidak diterima melalui jalur SBMPTN, maka aku sudah mempunyai tempat berkuliah lainnya. Namun, orang tua tidak mengizinkan aku mendaftar di kampus swasta. “Lebih baik tidak kuliah, apabila kamu daftar di swasta!” katanya. Ya, tentu saja, karena masalah biaya. Aku pun mengurungkan niatku dan berpasrah kepada Allah. Aku percaya, jika Allah berkehendak, maka terjadilah. Meskipun jauh dari apa yang diduga sebelumnya.
Rupanya, perjuanganku berbuah manis. Ada rasa tidak menyangka, ketika aku dinyatakan lolos sebagai mahasiswa S1 Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Jurusan dari universitas ternama yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Aku memang memilihnya, namun terasa seperti mimpi dapat menggapainya. Aku bersyukur, hingga menangis dan memeluk ibuku yang baru saja selesai menuaikan sholat magrib.
“Bu, aku lolos SBMPTN,” kataku.
“Alhamdulillah. Lolos dimana?” tanya beliau dengan raut wajah bahagia.
“UGM.”
“Beasiswa?”
“Belum tahu, Bu.”
Aku menangkap raut wajah kekhawatiran pada ibuku. Tentu saja, meskipun negeri tetapi beasiswa bidikmisi yang aku ajukan belum jelas penerimaannya. Demikian pula denganku. Lalu kata ibuku, “Ya sudah, coba saja dulu. Nanti, jika memang tidak lolos bidikmisi, maka kamu berhenti saja ya. Bapak ibumu tidak sanggup.” Deg, kalimat yang tidak aku harapkan sebelumnya itu terucap dari ibuku. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Namun, lagi dan lagi, aku hanya bisa memperbanyak doaku kepada Allah. Aku tahu, bahwa rencanaNya adalah yang terbaik untuk hambaNya. Allah Maha Mendengar, Maha Tahu. Allah mengabulkan doa kami, mungkin bukan doaku, tetapi doa orang tuaku atau orang-orang yang menyanyangiku. Tepat pada awal bulan September, aku dinyatakan lolos Bidikmisi. Dengan rasa syukur bercampur haru, aku segera mengabarkan kabar gembira itu kepada orang tuaku. Alhamdulillah!
Sejak saat itu, aku menjadi orang pertama yang berkuliah di keluarga, bahkan keluarga besar. Ya, memang keinginan untuk berkuliah sering tak terpenuhi bagi orang-orang di keluarga kami. Cukuplah lulus SMA atau SMK saja, lalu bekerja. Dan kelulusan itu menjadi kebanggaan tersendiri dapat menjajal dunia perkuliahan dan bertemu orang-orang hebat di Biologi UGM.
Aku tak boleh lengah dengan kesempatan besar yang aku telah peroleh.
Pada awal perkuliahan, aku harus mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem dan tatacara baru, segala sesuatu yang baru aku tahu. Aku berusaha memaksimalkan belajarku dan berhasil memperoleh IP cumlaude pada semester pertama. Capaian itu menjadi penggebrak diriku untuk terus berprestasi. Disini, aku memiliki ruang untuk berkarya dan menempa diri yang tidak boleh aku sia-siakan.
Selama berkuliah, aku mengikut berbagai macam organisasi baik tingkat fakultas maupun universitas. Aku ingin mencari teman sebanyak mungkin dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Tidak peduli dengan laporan dan tugas di Biologi yang seabrek, jadwal kuliah dan praktikum yang padat, aku tetap ingin berkembang. Bagiku, kuliah bukan hanya buku, laptop, presentasi dan tugas, tetapi juga tentang cara memaksimalkan potensi, softskill dan mempersiapkan masa depan. Sejumlah kepanitiaan aku jajal, dari event skala kecil hingga nasional. Aku pun bertemu dengan lebih banyak orang dengan karakter yang bermacam rupa.
Tak hanya itu, aku sempat ketagihan ikut berbagai kompetisi ilmiah. Berawal dari ajakan teman, aku mulai tertarik dan memahami karya tulis ilmiah yang sangat terdengar asing bagiku. Alhamdulillah, dengan cara itu, aku pernah merasakan berkeliling di berbagai universitas. Mulai dari Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya di Kota Malang hingga ke Universitas Hasanuddin di Makassar. Pada tahun 2017, aku memperoleh kesempatan pergi ke Negeri Jiran, Malaysia, untuk mengikuti International Conference (ACBES-2017).
Rasanya, aku tidak ingin melewatkan kesempatan sedikitpun semasa kuliah.
Beberapa program dan pelatihan unggulan UGM pernah aku ikuti. Misalnya Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) dan Sahabat Percepatan Peningkatan Kepemimpinan Mahasiswa (SP2KM) UGM. Aku mencoba masuk ke dunia wirausaha yang memang bukan fokus bidang yang aku pelajari, tetapi aku menyukai untuk berkiprah di dalamnya.
Aku bersyukur menjadi salah satu penerima bidikmisi dan bagian dari Fakultas Biologi UGM yang memberikanku banyak pengalaman berharga. Aku berkesempatan mengikuti berbagai kegiatan dan mampu berkarya selama perkuliahan. Memang tidak banyak, tetapi aku sudah sangat mensyukuri hal itu. Semua pengalaman yang aku dapat, tentu karena Allah, dan juga anugerah bidikmisi serta dukungan penuh orang tuaku. Aku masih memiliki banyak mimpi yang ingin aku wujudkan, dan bidikmisi telah mempermudah jalanku meraih satu persatu mimpi itu.
Teringat olehku bahwa Allah akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu mau merubahnya. Semua yang terjadi itu pasti ada alasannya. Semua mimpi itu memang perlu diperjuangkan, agar terwujud cita yang nyata. Berusaha semaksimal dan semampunya, sisanya berserah diri pada yang Maha Pencipta. Semoga kisahku, dapat menginspirasimu. Terima kasih Bidikmisi! Anugerah luar biasa untuk meraih mimpi!