Cinta Tanpa Suara

Tentang Cara Ibu Mengungkapkan Cinta

Ibu. Bunda. Umi. Amak. Mamak. Dan sebutan lainnya yang mungkin berbeda di setiap daerah. Tetapi satu hal yang pasti. Semua sebutan itu merujuk pada satu sosok luar biasa. Sosok perempuan yang hebat. Perempuan dengan pengorbanan yang tak akan pernah mampu terbalas. Kasih sayang yang tak pernah terhenti. Rasa cinta yang tak pernah terutarakan. Lewat suara selirih apapun itu. Cinta tanpa suara. Cintanya bukan untuk disombongkan. Semua tentang cara ibu mengungkapkan cinta.

Sejenak, coba renungkanlah. Jika cinta Ibu disampaikan dengan rangkaian kata, maka berapa banyak suara cinta yang akan kita dengar? Berapa juta kertas yang akan kita gunakan untuk menuliskan setiap kata cinta darinya? Ya, meskipun tanpa suara, cinta Ibu tetap senantiasa ada. Ibu mengungkapkan cinta lewat santapan nikmat yang selalu beliau sajikan di meja makan. Dengan kecupan manis sebelum tidur. Pelukan hangatnya. Tatapan teduhnya. Nasehat baiknya.

Apapun itu, Ibu tak pernah melupakan cinta dari setiap perlakuannya.

Senja Tanpa Warna

Dari gumam bibir perempuan di ujung senja itu
Tak satupun jemari mampu mengira
Tiada sanggup akal yang tepat menerka
Hanya tapak kakimu yang bersaksi bisu

Setangkai mawar yang teronggok di jendela kamarmu
Tersisih pita hitam perangkai kembang kamboja
Senyum malumu membayang sebatas angan
Rengek manja itu berbias sendu serak tangisnya
Dan lekuk wajahmu terbenam dalam reruntuhan malam

Tiada kata manis pelepas kehilanganmu
Tersisa iringan doa dalam diam tak berucap
Dari wajar nanar terbelenggu ratap pilu
Mimpi tentangmu tersimpan tanpa harap

Rasa hati tergores dalam membekas
Kekal menyatu bersama candu rindu
Mendekap samar bayangmu, seraya bergumam
Aku akan tetap mencintaimu
Di ujung senja tanpa warna

Fortituka, 6 Jurus Ampuh Kalahkan Hoax

 

Kuncinya, jadilah masyarakat bijak.

Hoax, tampaknya menjadi satu pokok bahasan yang cukup menarik untuk diulik. Sudah menjadi hal yang lumrah, dalam waktu tujuh hari saja, 2-3 informasi hoax beredar di masyarakat. Bergulir sebagai isu terhangat yang ramai diperbincangkan. Dipercaya, seolah benar adanya. Ternyata hanya hoax. Belum diketahui kebenarannya. Bisa saja rekayasa dan kebohongan belaka, yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu. Mereka yang mudah tersulut emosinya, dapat berubah cara pandangnya, bahkan bisa hilang rasa percayanya. Boleh dikata, hoax bagaikan racun dengan dosis rendah. Masuk ke dalam tubuh, mengalir bersama darah, lalu membunuh saat sasarannya lengah.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, dengan mudahnya informasi hoax tersebar dalam bentuk pesan berantai, postingan di media sosial, atau tulisan dan ucapan. Tidak dapat dipungkiri, adakalanya informasi hoax mencantumkan data-data atau fakta tertentu, untuk menyakinkan si penerima tentang kebenaran informasi tersebut. Lantas, jika tidak dikupas secara mendalam dengan mencari fakta yang sesungguhnya, maka mereka dapat dengan mudah terhasut dan percaya.

Mengutip dari pepatah terkenal, mulutmu harimaumu, hoax tidak hanya ‘menerkam’ dengan ucapan saja, tetapi juga melalui tulisan. Ditinjau dari isi pesan, hoax dapat berupa provokasi, menyudutkan suatu pihak, membenarkan atau menyalahkan sesuatu tanpa data dan fakta. Apabila tidak ditanggulangi dengan serius, informasi hoax dapat menimbulkan rasa tidak percaya, pesimis, kekhawatiran dan kemarahan. Bahkan, bahaya hoax dapat memicu perselisihan antara dua belah pihak yang berujung pada perpecahan. Ya, ibarat hoax seperti senjata yang terbungkus rapi, namun mematikan saat sampai tujuan.

Nah, sebagai masyarakat yang bijak, kita dapat melakukan berbagai hal untuk melawan hoax. Sederhana saja. Tidak perlu bersusah payah untuk menumpas para penyebar hoax. Kuncinya, jadilah bijak, selektif menerima informasi. Sebab, mau tidak mau, info hoax akan tetap beredar dengan maraknya penggunaan teknologi. Informasi mudah dikirimkan atau diterima dalam hitungan sepersekiandetik. Pada dasarnya, kita dapat memanfaatkan teknologi yang diimbangi dengan fitur-fitur anti hoax, seperti report status. Namun, secara sederhana, kita dapat melawan hoax dengan menumbuhkan kebiasaan dalam diri.

Sebut saja, fortituka, jurus jitu hentikan hoax, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Fortituka atau Four T Two K merupakan suatu cara sederhana yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk melawan hoax. Bagi masyarakat awam, perlu adanya penjelasan atau pengenalan terlebih dahulu agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar. Cara ini akan efektif dilakukan apabila diimbangi oleh peran aktif kalangan muda atau milenial dalam proses edukasi hoax. Fortituka terdiri dari 4 T (Four T: Think, Truth, Take, Thrust) dan 2 K (Two K: Keep, Known) dengan penjelasan sebagai berikut.

Think and Trust (berpikir dan ketahui tujuan).

  • Pikirkan kembali terkait dengan isi pesan yang diterima. Perlu diperhatikan juga mengenai tujuan informasi tersebut. Apa bersifat memecah belah? Menyebar isu? Fitnah atau justru menghasut masyarakat. Apapun itu. Kenali tujuannya. Jika mengandung unsur yang dapat menimbulkan perselisihan, maka hentikan dan hapus segera. Apabila ada orang sekitar kita yang sudah terlanjur percaya, berikan penjelasan dan bukti yang memadai. Dalam hal penyampaiannya, dilakukan dengan pendekatan yang baik dan tidak memaksa.

Truth atau dapat dipercaya.

  • Kita perlu bersikap kritis untuk menanggapi setiap informasi yang diterima. Informasi yang masih meragukan, sebaiknya dibuktikan kebenarannya terlebih dahulu dengan mencari sumber-sumber lain yang relevan dan dapat dipercaya. Lakukan perbandingan pada berbagai informasi tersebut untuk menarik kesimpulan yang tepat. Ada banyak situs yang dapat dijadikan acuan, misalnya website instansi.

Take atau paham dengan keadaan.

  • Bagaimana suasana saat informasi itu beredar? Apa yang akan terjadi jika pesan itu dikirim pada saat ini? Cobalah perhatikan waktu pengirimannya. Terlebih, informasi hoax yang dengan mudah mengelabui si penerima dalam kondisi yang tidak stabil (marah, khawatir, atau sedih dan lain-lain). Bahkan, informasi yang benar sekalipun dapat sangat sensitif dan dianggap sebagai hoax, apabila tidak tepat waktu dan suasana. Sebagai contoh, beredarnya informasi hoax pada saat kemelut kampanye pemilu 2019. Saat, hampir setiap orang mengukuhkan dan memantapkan pilihannya. Mudah saja mengaburkan informasi yang benar tersebar sebagai kebohongan, yang bohong tampak sebagai kebenaran.

Keep atau hentikan dan hapus.

  • Hal ini dilakukan saat pesan yang kita terima termasuk hoax. Jika kita menerima pesan seperti itu, maka akan lebih bijak untuk dihentikan (tidak dikirim ke orang lain). Segeralah menghapus apabila setelah ditelusuri hanyalah informasi palsu.

Known atau mengetahui informasi yang akan kita sampaikan.

  • Sebagai masyarakat yang hidup di era modern, sikap bijak tidak hanya diterapkan saat menerima informasi. Kita juga harus mengetahui informasi yang dibuat dan akan disampaikan. Cek dan dicek kembali. Apabila dianggap perlu, dapat dilengkapi dengan data atau fakta yang ada.

Satu hal, bahwa ancaman Hoax itu Nyata. Kenali ‘kehadirannya’ sedini mungkin. Gali informasi dan tetap waspada. Masyarakat bijak, masyarakat tanggap dan anti hoax!

Cahaya yang Tiada Terduga

Kebahagian tak selalu muncul dari seberapa banyak harta yang kita miliki. Terkadang, harta yang melimpah justru menjadi sumber permasalahan rumit. Tetapi, memang tak bisa dipungkiri, banyak orang rakus dan gila harta. Mereka tak mau kalah memupuk kekayaannya. Rela melakukan apa saja, bahkan dengan cara yang tak semestinya. Ya, dalam pikirannya, harta adalah segalanya. Hingga hilang kepeduliannya, juga rasa belas kasihnya. Ketika harta itu lenyap, hancurlah kehidupannya. Semula bergelimangan harta dan serba mewah, harus pontang panting mencari cara bertahan hidup ke segala arah. Ada pula yang justru menyerah, terguncang hati, berimbas pula pada kejiwaannya. Ah, lagi-lagi karena cerita itu, seorang lelaki dibawa berkunjung ke tempat kerjaku.

Pagi itu, 7 hari sebelum lebaran tiba, aku menyempatkan diri berkeliling ke taman. Tentu saja, sebuah taman favoritku di samping rumah sakit ini. Disana, biasanya aku mengajak pasienku untuk bercengkerama dan menikmati udara segar. Sejenak, pikiranku mengangan jauh, kembali ke masa lima tahun yang lalu, saat pertama aku mengabdikan diri sebagai seorang perawat. Bangunan tua dihadapanku telah lama menjadi saksi bisu ceritaku. Ya, di depan bangunan itu pula, aku meyakinkan kedua orang tuaku tentang keyakinanku memilih pekerjaan ini. Tetapi waktu telah berlalu. Seperti warna cat dindingnya yang mulai memudar dan berlumut.

“Hayo, mengapa melamun, Fit?” Devi menepuk bahuku.”Daripada melamun, lebih baik ikut aku ambil uang di atm. Ayo!”

Belum sempat menjawab pertanyaannya, Devi sudah menggandeng tanganku sambil tersenyum. Mau tak mau, aku mengikuti tarikan tangannya itu.

Disana, aku memilih untuk menunggunya di luar. Aku memandang sekeliling mencari tempat teduh. Sebuah pohon besar yang masih rindang, tumbuh kokoh tak jauh dari tempatku berdiri. Aku pikir cukup melindungiku dari sengatan sinar matahari yang mulai terik. Terlebih, di hari puasa seperti ini. Rasanya kerongkongan lebih cepat kering disbanding hari biasanya.

Tiba-tiba, seseorang mengejutkan kami dari arah belakang.

“Maaf, Nak, boleh saya beristirahat sebentar disini?”

Aku tak segera menjawab. Suaranya tak dapat kutangkap dengan jelas di telinga.

Sesaat kemudian, terdengar suara derit sepeda cukup nyaring dari arah samping kanan tubuhku. Aku menoleh. Tampak seorang kakek tua telah berdiri di sampingku sambil menuntun sepeda.

“Ada apa, Kek?”

“Boleh saya beristirahat sebentar disini, Nak?” si Kakek mengulangi kalimatnya dengan lebih lantang. Beliau menggerakkan bibirnya perlahan. Mungkin, beliau tahu aku kesulitan mendengar suaranya.

“Tentu, Kek. Silakan,” sahutku. Singkat.

Beliau mendorong sepeda, lalu disandarkannya di pohon besar, tepat di sampingku.

“Sendirian saja?”

“Tidak Kek. Saya sedang menunggu teman. Dia ada disana,”aku menunjuk ATM.

Kakek itu mengangguk.

Diam.

Aku mengamati si Kakek dengan seksama. Ia mengenakan sepasang sandal jepit putih. Celana panjang yang sudah kumal menutup kakinya yang kurus kering. Si Kakek tampak rapi dengan baju lengan pendek berwarna merah marun. Bajunya dimasukkan ke dalam celana dengan sebuah sabuk hitam melingkar di pinggang. Di atas sakunya, tertera sebuah nama. Abas. Giginya yang sudah hilang beberapa menunjukkan bahwa usianya sudah tak muda lagi. Diperjelas dengan kerutan-kerutan wajahnya yang semakin tajam.

“Jika saya boleh tahu Kakek ini darimana?”

“Jauh, Nak. Saya suka berkelana. Berkeliling kota untuk menghibur diri, ditemani sepeda tua ini,”cerita Kakek.

Aku mengangguk.

Matanya melihat ke satu arah. Rumah sakit jiwa. Tanpa ada yang meminta, si Kakek bercerita.

“Dulu saya bercita-cita menjadi dokter. Tetapi, karena biaya yang mahal, saya putus sekolah. Setiap pelajaran Matematika dan Kimia, saya pasti dapat nilai jelek. Pernah sekali dapat nilai bagus, itupun hanya 5. Tetapi senang, gurunya memuji. Sekarang, anak-anak saya besar semua. Yang terakhir baru lulus SMA tahun kemarin. Anak kedua sudah bekerja dan yang sulung sudah punya anak.”

Si Kakek semakin bersemangat menceritakan kehidupannya. Sayangnya, suara si Kakek tidak jelas. Terdengar parau dan serak. Aku yang tak ingin membuatnya sedih, hanya menganggukkan kepala setiap kali Kakek bercerita.

“Saya sudah tua. Sudah miskin. Biarlah anak-anak dan cucu-cucu saya yang mencari pengalaman dan bangkit dari keterpurukan. Sekarang, saya suka menyendiri. Biasanya, di masjid. Bantu menyapu masjid, menggelar tikar. Nah, kamu yang masih muda harus rajin bekerja, terus menambah pengalaman. Dan yang paling penting, jangan sampai meninggalkan kewajiban kalian, terutama sholat,” Kakek itu dapat mengetahui bahwa aku seorang muslim dari kerudung yang aku kenakan.

Azan asar berkumandang dengan sangat jelas dari masjid di sebelah rumah sakit. Si Kakek beranjak dari tempat duduknya.

“Nak, sudah azan. Mari sholat asar dulu, bersama-sama dengan saya.”

Tersenyum. Itulah hal yang aku lakukan untuk membalas ajakan si Kakek. Terasa ada benda yang menghantamku. Akhir-akhir ini, aku memang sering meninggalkan kewajiban sholat lima waktu karena pekerjaan yang tak dapat aku tinggalkan. Bahkan disaat bulan Ramadhan ini, sholat masih saja aku abaikan. Demi pekerjaan. Malu.

“Ayo, nak. Nanti kita berjamaah!”

Merasa diabaikan, si Kakek segera pergi berlalu.

Ucapan-ucapan si Kakek terus tergiang di kepalaku. Bahkan, saat Devi mengajakku kembali bekerja, seolah tak aku hiraukan. Ada sesuatu yang terasa aneh ketika aku mengingatnya. Entah, aku sendiri pun tak tahu.

Pagi harinya, aku menghampiri Devi yang bertugas di bagian administrasi. Aku bermaksud mengambil beberapa data pasien. Sesaat kemudian, seorang ibu berjalan ke arahku.

“Saya ingin bertemu dengan Kakek Abas.”

Kakek Abas. Nama yang tak lagi asing, pikirku. Seperti pernah mengenal atau mendengar nama itu. Aku berusaha mengingatnya sambil membolak-balik daftar nama pasien. Sontak, aku pun tersentak. Hampir saja menjerit sekeras-sekerasnya. Namanya sama dengan nama yang tertulis di kantung saku kakek yang kemarin mengobrol denganku. Mungkinkah, si Kakek adalah pasienku? Ah, tak mungkin. Dari caranya berbicara saja, seperti orang normal pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa beliau sedang dalam kondisi sakit…jiwa.

Rasa penasaran dan tak percaya bergeliat dalam hati. Aku ingin memastikan kebenaran hal itu dengan membuntutinya. Ternyata memang benar. Orang yang dijenguk si ibu berwajah sama dengan yang aku lihat 18 jam yang lalu. Hanya saja pakaian yang dikenakan telah berganti pakaian pasien rumah sakit yang berwarna biru.

Aku berjalan gontai. Terbenam dalam pikiran yang kemelut.

Orang yang dianggap ‘gila’ itu, justru memberikan nasihat dengan kata-kata yang sangat manis dan bermakna untukku. Petuah yang teramat mengena, langsung kudengar dari mulutnya. Aku benar-benar telah mendapat pelajaran yang berharga dari seorang kakek tua yang ternyata gila. Mungkin inilah cara Allah menyadarkan sikapku yang lalai menjalankan perintahNya. Dengan cara yang terduga lewat pasienku sendiri dan di waktu yang penuh berkah, bulan Ramadhan.

Bayang Kebajikan

Dia kembali
Separuh waktunya habis tanpa arti
Dahi berkernyit, mata terpicing
Melucuti bayang semu tiga jengkal di hadapnya
Guratan murung menebal di raut muka
Gundah menggeliat
Menyamarkan rona ketenangan
Gemetar menggerogoti
Amarah menaungi
Dia masih saja, berdiri disana
Hingga terjaga derit pintu kayu
Dan lenyaplah tubuh itu disana
Tersisa cermin dengan bingkai kayu tua
Meski, jejal bayangnya tak henti menyeruak
Ingin tubuh hendak bergerak
Lemah tiada berdaya
Lunglai tanpa rasa
Bungkam mulut tak bersuara
Terpelintir tangan, terikat kuat
Dia kembali tak lagi dalam bayang maya
Meninggalkan sehelai selendang hitam
Tersimpan kertas usang
Pakailah, niscaya tenang hatimu
Keras gertaknya, merinding rasanya
Dan aku kembali terjaga
Ternganga

Tiga Cahaya

Dalam remang cahaya..
Sayup terdengar suara riuh canda tawa
Tiga bocah suka cita berbagi cerita
Duduk bersila, di sudut taman kota
Belasan tahun mungkin saja usianya
Berpakaian sederhana, dengan kopiah di atas kepala
Aku berpaling, menatap gemerlap bintang dan bulan purnama
Menikmati gelak tawa tiga bocah yang mengoceh
Tanpa sadar, suaranya mulai memudar
Mereka disana, mengunyah sepotong kue yang mereka bawa
Tergerak kaki melangkah menghampiri
Enam pasang mata kuat menatapku
Duduk dan nikmati makananmu, celetuknya
Tergertak halus
Senyum menyeringai
Tertampar pedih
Pilu menahan malu
Yang sepele terabaikan
Aku tersadar, sikap diri tak sejalan perintahNya
Karena tiga bocah di malam itu

 

Mengenalmu dalam Sepucuk Surat

Damar tersenyum seorang diri. Ia memandang seorang  perempuan berkerudung, yang tengah berdiri tidak jauh dari tempat duduknya. Dia Aisyah. Gadis cantik yang pernah diperkenalkan sahabatnya beberapa waktu lalu. Kulit wajahnya yang putih tampak sangat serasi dengan kerudung hijau yang ia kenakan. Dia tak sendirian. Seorang laki-laki bertubuh tegap sedang bersamanya. Aisyah menyebutnya Mas Iwan, Kakak kandungnya yang baru tiba dari Jakarta.

“Astaghfirullah, apa yang terjadi denganku? Aku harus menahan diri. Aku sedang berpuasa,” Damar segera memalingkan wajahnya.

Rupanya, sikap Damar yang memperhatikan Aisyah dalam waktu yang cukup lama itu, mencuri perhatian Mas Iwan. Lantas dia menghampiri Damar untuk mengajaknya berbicara. Sementara Aisyah sudah pulang terlebih dahulu. Pembicaraan semakin serius setelah Mas Iwan mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Damar terkejut.

“Kamu menyukai adikku?”

Damar hanya terdiam. Ada gejolak rasa yang melejit hebat di hatinya. Apa ini? Cintakah?

“Damar, katakanlah yang sejujurnya kamu rasakan sekarang. Aku tak akan marah kepadamu. Walaupun baru beberapa kali aku bertemu denganmu, aku percaya, kamu adalah orang yang baik. Pantas untuk menjadi imam bagi keluarga adikku kelak. Jika memang kamu yakin dengannya, aku bisa membantumu.”

Entah apa penyebabnya, tiba-tiba ada keyakinan yang timbul dalam benaknya bahwa Aisyah adalah perempuan yang tepat untuk menjadi pendampingnya. Meskipun tak langsung menatap matanya, benih-benih cinta itu mulai tumbuh sejak mereka pertama bertemu.

“Benarkah itu Mas? Aku tak ingin bermain-main saja dengan cinta yang kumiliki ini.”

“Aku paham. Besok kita bertemu di taman depan Pondok Pesantren Al Hidayah. Aku akan memberikanmu sesuatu.”

Damar mengangguk. Rasanya tak sabar menunggu hari esok tiba.

Keesokan harinya, Mas Iwan menepati janjinya. Dia datang sambil membawa sebuah amplop putih. Di bagian depan tertulis “Jika kamu yakin denganku, maka lakukanlah apa yang kutuliskan di dalamnya”. Demikianlah bunyi kalimat itu. Sebelum Mas Iwan pergi, dia sempat mengatakan suatu hal.

“Lakukan semuanya dengan hatimu. Cintai adikku karena Allah, bukan karena kamu ingin memenuhi nafsumu. Buatlah adikku yakin denganmu. Ingat dia sangat menyukai kejujuran dari seorang laki-laki,” katanya sambil tersenyum.

Sesampainya di rumah, Damar segera membuka surat itu. Isinya singkat. Hanya beberapa kalimat yang ditulis dengan tangan dengan sangat rapi.

Assalamu’alaikum wr. wb.

            Mas Damar, Aisyah sudah mendengar semua dari Mas Iwan. Namun, Aisyah membutuhkan waktu untuk mengenal Mas Damar lebih jauh lagi. Demikian pula dengan Mas Damar. Terlebih kita baru saja bertemu dalam dua kali kesempatan. Dalam ta’aruf ini, sebagai perkenalan, Aisyah ingin Mas Damar menuliskan semua hal tentang diri Mas Damar, lengkap dengan identitas, keluarga, kelebihan dan kekurangan yang ditulis dengan tangan. Selain itu, apabila Mas Iwan ingin menyampaikan hal yang lain, itu akan lebih baik. Aisyah juga akan membuatnya, Mas. Tiga hari kemudian, kita akan bertukar tulisan kita lewat kakakku. Semoga Mas Damar berkenan. Cukup sekian, terima kasih.

            Wassalamu’alaikum wr. wb.

Damar tersenyum sejenak. Perempuan yang unik, pikirnya. Dia semakin yakin bahwa Aisyah adalah perempuan yang pantas menjadi istrinya. Petunjuk dan jawaban atas doanya mulai diperlihatkan satu per satu. Dia pun akan berusaha terus memantaskan dirinya menjadi pasangan hidup untuk Aisyah.

Selepas sholat malam, Damar mengambil kertas dan pena. Ia ingin menuliskan dalam keadaan yang tenang. Semua hal yang yang dia tulis seperti keadaannya, tanpa dibuat-buat. Damar percaya, jika Aisyah memang jodohnya, maka ia akan menerima semua kekurangan yang dimilikinya.

Tiga hari kemudian, Damar bertemu dengan Mas Iwan di tempat yang sama seperti dulu. Ia menukarkan tulisan yang dibuat Aisyah dengan tulisan Damar.

“Tunggulah jawaban adikku, selalu berdoa kepada Allah. Jika benar dia jodohmu, maka kamu tidak akan dipersulit,” ungkapnya sambil tersenyum.

Damar meninggalkan taman dengan penuh harapan. Rasa penasaran menyeruak ingin segera membaca tulisan itu. Ia pun tak sabar menunggu hari dimana Aisyah akan memberikannya jawaban. Sebuah jawaban yang akan melegakan hatinya.

Rupanya Aisyah bimbang dalam menentukan keputusan. Sudah seminggu jawaban yang diharapkan tidak kunjung ada. Damar mulai cemas. Apakah keinginannya ditolak? Ia pun mengirimkan surat kepada Aisyah untuk mengurangi rasa penasarannya. Balasan surat diterimanya dalam selang waktu sehari.

Assalamu’alaikum wr. wb.

            Mas Damar, maaf karena Aisyah terlalu lama merenungkan semua ini hingga tanpa sadar sudah membuat Mas Damar menunggu terlalu lama. Aisyah tak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan, Mas. Dari petunjuk yang Allah berikan dan hasil pertimbangan dari orang tua Aisyah, akhirnya Aisyah mampu mengatasi kebimbangan ini. Aisyah menerima Mas Damar karena Allah. Semoga Mas Damar mencintai Aisyah karena Allah dan menerima Aisyah dengan apa adanya. Aisyah selalu berdoa, semoga keputusan ini adalah yang terbaik untuk kita.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Pada kalimat terakhir dari surat, Damar membacanya berulang, meyakinkan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Matanya berkaca-kaca sebab ia bahagia. Damar mengucap syukur atas apa yang diperolehnya kini. Kabar gembira segera disampaikan kepada ayah dan ibunya. Dengan bahagia mereka merestui Damar. Perkenalan yang singkat itu diakhiri dengan pernikahan yang sederhana.

Memang, dua insan yang berjodoh tak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk saling mencintai. Pertemuan yang singkat terkadang sudah cukup sebagai sebuah perkenalan. Sebagai seorang laki-laki bila sudah mampu, mengapa harus menunggu? Segera saja menikah. Demikian pula dengan perempuannya. Perkenalan yang terlalu lama tak selalu berakhir dengan kebersamaan. Karena mereka yang berjodoh dan memiliki cinta sejati yang kuat akan menerima dan melengkapi kekurangan pasangannya. Selain itu, cintailah pasanganmu karena Allah.

Menanti Hujan Reda

Sejak pukul setengah empat sore, aku termenung di tepian jendela, menatap rintikan hujan yang semakin deras. Tetesan airnya jatuh perlahan, menimpa atap-atap rumah bergenting tanah. Tanah mengepul seketika air menyentuhnya. Debu berhamburan, lalu larut bersama air hujan. Hujan semakin deras. Ah, memang datangnya hujan menjadi candu rinduku sejak lama. Pun dengan orang-orang tetangga rumah. Kemarau panjang rupanya benar-benar menyengsarakan kehidupan, menyisakan tanah-tanah berdebu dan tandus.

Aku mendesah perlahan. Rasa hati teramat gundah mengharap kedatangannya. Tak kunjung juga, aku melihat kedua bola mata di wajahnya yang kukira sudah bertambah dewasa itu. Kapan engkau akan datang? Janjimu, pukul 4 sore engkau tiba di rumah. Dan jika benar, pasti telah aku buatkan secangkir kopi panas lengkap dengan pisang goreng kesukaanmu. Tetapi, bukankah engkau pun tahu, satu jam telah berlalu. Apa yang terjadi denganmu hingga engkau terlambat untuk menemuiku?

Sesaat kemudian, samar-samar aku melihat bayangannya di antara sela-sela derasnya air hujan. Tampak olehku, dia menenteng satu koper besar dan tas gendong di bahu. Sementara, payung biru tua digenggam erat dengan tangan kanan. Aku bergegas meninggalkan segelas teh yang telah aku seruput di atas bingkai jendela. Kusambar payung besar di sudut ruang untuk pergi menjemputnya.

Hawa dingin menyusup masuk ke dalam rumah kayu seketika pintu rumah ini terbuka. Dari kejauhan, aku dapat menangkap sorot mata tajammu. Masih setampan dulu, pikirku. Sekilas engkau tersenyum ketika aku berlari ke arahmu.

“Biar aku yang membawanya,” kataku.

Tersenyum. “Engkau sudah lama menungguku?” bisiknya sambil menggigil kedinginan.

“Sudahlah. Tak apa, yang terpenting, engkau telah memenuhi janji untuk menemuiku. Mari kubantu membawa barangmu dan bergegas masuk.”

Dengan sigap, tangannya menepis tanganku yang mencoba meraih kopernya.

“Engkau perempuan. Tas ini tak seringan yang engkau bayangkan. Biar aku saja” Dia tersenyum.

Tanpa berpikir panjang, dia berjalan meninggalkan aku yang masih terganga.

“Mengapa tetap berdiri disana? Ayo, hujan semakin deras.”

Ditemani dengan segelas kopi hitam panas dan sepiring pisang goreng, kami duduk terpaku dalam diam. Senyum yang baru saja mengembang dari bibirnya itu, seolah ikut tersapu derasnya air hujan. Baik aku maupun dia, tak ada satupun yang mencoba memulai pembicaraaan terlebih dulu. Suasana berubah tegang. Satupun tak ada yang mampu menatap. Membisu. Terbenam dalam pikiran masing-masing.

“Makanlah selagi pisang goreng itu masih hangat. Atau engkau bisa menyeruput secangkir kopi buatanku. Setidaknya, kopi itu pun mampu mengurangi rasa dingin di tubuhmu.”

Aku mendongak. Sementara dia tetap tak bergeming. Dari tempatku duduk, dapat kulihat jelas tubuhnya gemetar. Dia kedinginan.

“Aku akan mengambilkanmu handuk. Tunggu sebentar.”

Tak disangka, dia justru memegang pergelangan tanganku.

“Duduklah. Aku tak akan lama berada disini.”

“Mengapa? Engkau tak suka bersama denganku?”

Dia menggeleng.

“Aku harus pergi.”

Diam. Kembali terdiam. Dan aku pun tak bertanya lebih lanjut. Ya, ucapan yang teramat pendek, namun sudah cukup membungkamku.

Entah. Aku pun tak dapat menerka sesuatu hal yang tengah dia pikirkan.

Sore itu, dia bukan lelaki periang dan romantis seperti yang aku kenal sebelumnya. Lelaki yang setiap hari tak pernah lupa menanyakan kabarku, lelaki yang teramat suka mengumbar kalimat romantisnya, kini berubah menjadi lelaki kaku dan bersikap dingin padaku. Sejauh aku mengenalnya, seberat apapun masalah yang dipikulnya, sebesar amarahnya, dia tak akan bertingkah seperti ini.

“Mengapa engkau diam? Tak sedikitpun engkau menunjukkan sikap bahwa kita berdua tengah berbicara. Engkau marah?”

“Engkau tak suka aku seperti ini?” nadanya meninggi.

“Ada apa? Mengapa engkau justru membentakku?” aku mengernyitkan dahi, kebingungan.

“Aku tak punya banyak waktu. Aku hanya ingin kita mengakhiri hubungan ini!”

Aku terbelalak. Tak percaya dengan apa yang diucapkannya.

“Putus? Apa ada yang salah denganku hingga engkau ingin mengakhirinya? Jika aku ada salah, engkau sampaikan saja. Biar aku perbaiki. Dan bukankah engkau mencintaiku? Engkau pun tahu bahwa aku teramat mencintaimu!” mataku mulai memerah, seiring dengan kemelut rasa yang tak karuan.

“Tak ada yang perlu aku jelaskan lagi. Kita berbeda Din! Dengan cinta itu pun tak akan cukup untuk mempersatukan kita!”

Tangannya bergerak cepat merogoh sesuatu dari balik tas gendongnya. Kotak yang terbungkus rapi dengan kertas kado warna jingga tanpa pita disodorkan kepadaku.

“Ambillah. Semoga ini mampu memperjelas maksudku. Aku harus segera pergi!”

Aku sudah tak mampu menahan air mata. Rasa pedih yang teramat sakit itu seolah menjadi lambang dalamnya dia menghunuskan belatinya ke hatiku. Semua rasa cinta yang aku miliki, seketika hancur berkeping-keping. Semua sirna, disaat hujan masih belum reda.

Dia berdiri dari tempat duduknya. Membetulkan posisi tas gendong di punggungnya.

“Tunggu!”

Aku mendongakkan kepala. Berdiri di hadapannya. Mencoba mencari arah tatapan kedua mata lelaki itu. Tanpa disangka, kulihat matanya memerah. Dia berusaha menahan tangis.

“Beri aku kejelasan tentang semua ini, Dim!” aku memukul keras bahu kanannya.

“Semua penjelasan ada di dalam kotak itu, Din. Buka saja!”

Dia merunduk. Tangan kanannya meraih ganggang kopernya.

“Biarkan aku pergi!”

Dalam isakan tangis itu, aku mencoba mencegahnya pergi.

“Tunggulah. Setidaknya sampai hujan ini reda.”

Aku melepas kedua tanganku dari bahunya. Mengusap air mata. Duduk dan diam.

Dia menuruti permintaanku tanpa bicara. Bahkan, dia tak menatapku sama sekali. Kurasa, hanya untuk menoleh pun dia enggan. Ya, sampai detik ini kami masih sama-sama diam. Isakan tangis pun seolah tak terdengar. Dibiaskan gemericik air hujan yang semakin deras.

Angin berhembus semakin dingin. Merebak masuk ke rumah. Berpadu dengan lara hati yang menyakitkan itu.

Kotak jingga darinya sengaja aku biarkan teronggok di meja. Di dekat segelas kopi yang belum diseruputnya sama sekali. Biarlah dia menjadi teman kopi yang menjadi saksi bisu kisah pahit ini. Aku masih enggan membukanya. Bagiku, akan lebih sakit jika nantinya aku tahu alasan keputusannya. Sementara, dia masih duduk di bangku hadapanku.

Ah, aku menghela napas yang terasa makin sesak.

“Aku pergi sekarang saja. Lupakan aku. Cintailah lelaki lain yang tulus mencintaimu juga. Jangan berharap kepadaku dan jangan pernah menemuiku lagi!”

Dia bangkit. Menenteng kopernya. Melangkah pergi meninggalkan aku yang masih terisak tanpa menoleh sedetikpun.

“Pergilah!”

Dengan tegas, aku membentak lelaki itu. Semua rasa marah yang sedari tadi aku tahan, aku tumpahkan kepadanya. Pergi. Biar dia pergi sesuka hatinya. Rasa sakit yang baru saja dia berikan menjadi pemicu kebencianku kepadanya. Mengapa harus aku? Jika memang selama ini dia tak mencintaiku, maka seharusnya aku tak dipertemukan dengannya. Dan dia tak perlu memperlakukanku semanis dulu. Apa salah bila pada akhirnya aku mencintainya setulus hati?

Aku pikir, aku adalah perempuan bodoh yang dengan mudahnya mencintai seseorang. Perempuan yang seakan gampang terbujuk rayuan manis lelaki. Dia yang datang dan mengenalkan cinta kepada perempuan lugu sepertiku. Lantas, dia pula yang mengakhiri semuanya. Mengkandaskan semua perasaan cinta yang telah merekah di hati.

“Sudahlah, Din. Tak perlu membuang air mata untuk lelaki seperti dia,” suara Ibu memecah keheningan.

Ibu berjalan menghampiri. Duduk merapat di sampingku. Tangannya merangkul kedua bahu. Aku bersandar pada tubuhnya yang penuh kehangatan. Ibu. Dan mungkin hanya Ibu yang mengerti keadaanku sekarang. Hanya Ibu pula yang mengizinkan aku menjalin hubungan dengannya. Bagaimana dengan Ayah? Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor yang menyita sebagian besar waktunya. Walaupun, beliau tak pernah lupa untuk sesekali menanyakan perkembangan sekolahku atau menyiapkan waktu untuk berlibur bersama.

“Dina, berhentilah menangis. Menangis tak akan menyelesaikan masalahmu. Jika memang lelaki itu datang kepadamu karena cinta, maka dia tak akan meninggalkanmu seperti ini. Sedikitpun, dia tak akan membuatmu menangis. Engkau tak perlu risau disakiti atau diabaikan oleh lelaki yang hanya mengumbar rayuannya. Sudahlah. Tak ada gunanya menangis, Din. Engkau harus buktikan, bahwa engkau adalah perempuan yang tegar. Jadilah wanita yang sholehah, pantaskanlah dirimu. Engkau masih ingat bukan bahwa jodoh, maut, dan rezeki itu Allah telah mengaturnya. Ibu yakin, suatu saat akan ada lelaki yang dengan serius mencintaimu, lelaki yang akan memperjuangkanmu dan dengan keseriusannya itu, dia akan berani melamarmu,” kata Ibu dengan suara lembut.

Ada kehangatan dan kepercayaan diri yang menyeruak setiap sisi tubuh ini. Aku harus bangkit. Aku harus menjadi perempuan yang kuat seperti kata Ibu.Tanpa sadar, aku berhenti menangis. Mendekap dan menenggelamkan separuh tubuhku ke dalam pelukan hangatnya.

Kini, ingatan itu kembali, sepuluh tahun selepas kejadian menyakitkan itu. Ketika senja yang sama tiba, aku memberanikan diri untuk membuka kotak jingga yang aku simpan di laci meja kamar. Aku menghela napas. Menenangkan dan memberanikan diri untuk membukanya.

Sebuah cincin permata dan secarik kertas. Aku mengernyitkan dahi. Seingatku, seseorang memiliki cincin permata serupa dengan cincin ini. Siapa? Hingga aku pun tersadar, bahwa cincin itu sama seperti cincin yang disimpan di kotak hitam milik suamiku. Mungkinkah?

Aku tak percaya. Lelaki yang menjadi suamiku adalah sabahat lelaki yang pernah menanamkan rasa sakit di akhir senja sepuluh tahun yang lalu.

… Dari hati ini, aku tak pernah yakin bahwa kita akan mampu untuk bersama. Kita sudah berbeda, Dina. Meskipun sekeras apapun perjuangan kita untuk bersatu, namun, semua tak akan berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kita memiliki keyakinan kuat yang berbeda, Din. Merubahnya akan menjadi hal tersulit bagiku. Demikian halnya denganmu.

Din, aku bukanlah lelaki yang tepat untukmu. Aku memilih pergi dan melepasmu, bahkan hingga membuatmu menangis. Percayalah. Suatu waktu engkau akan bertemu dengan lelaki yang pantas mendampingimu, yang sejalan dengan pemikiranmu. Jika pilihanku tepat, maka engkau akan menemukan pasangan dari cincin yang aku berikan kepadamu. Aku harap, engkau akan bahagia dengannya…

Bahuku berguncang. Aku menangis lagi. Entah aku harus bahagia atau sedih dengan semua ini. Sebuah skenario yang teramat rapi dan tak pernah aku duga sebelumnya.

Kini, aku telah bersanding dengan lelaki yang dipertemukan dari pilihan lelaki yang pernah mencintai sekaligus menyakitiku. Lelaki pilihannya benar-benar membuatku lupa akan rasa sakit yang pernah menyiksaku beberapa tahun lalu.  Dan di ujung senja ini, semuanya menjadi lebih indah. Satu pintaku, aku harap engkau pun bahagia dengan perempuan dari tulang rusukmu. Meskipun tak bisa kupungkiri, rasa sakit itu masih tetap sama, yang akan terasa perih saat mengenangmu.

Hilang

Dalam gumam bibir di ujung senja itu
Terlukis raut wajah sendumu meredup
Dua binar mata menunduk sayu

Habis masamu
Perempuan renta pembenci senja

Di bawah lampu jalan pinggiran kota
Himpunan kisah kau perdengarkan
Katamu, malam tak seramah dulu

Tiada lagu romantis pengiring keheningan malam
Hanya deru mesin yang menderu menunggu pagi
Gurat wajah dan lekuk nadi di tanganmu
Saksi bisu kerasnya merengkuh cita

Menyematkan Cinta Rupiah di Hati dengan Cara Sederhana

           Berbicara tentang cinta, rasanya tidak akan ada habisnya. Setiap insan yang hidup di dunia, tentu pernah atau tengah merasakan cinta. Baik cinta kepada pasangan, keluarga, sahabat, bahkan rasa cinta kasih kepada hewan peliharaan. Ya, cinta tak sekedar melibatkan ucapan dan perbuatan, tetapi didasari oleh rasa yang muncul dari hati. Bahkan, banyak yang mengungkapkan bahwa cinta yang dalam tak akan cukup disampaikan dengan kata-kata. Seperti salah satu penggalan puisi dari penyair kondang berikut ini.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhanaseperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api

yang menjadikannya abu

…”

Sapardi Djoko Damono dalam “Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana”

           Lalu apa yang akan kamu lakukan jika kamu mencintai sesuatu? Benda kenangan misalnya. Tentu kamu akan menjaga, merawat dan menyimpannya dengan baik bukan? Bagaimana jika sesuatu yang harusnya kamu cintai itu adalah Rupiah, mata uang negaramu? Lalu, pernahkah kamu bersikap mencintai Rupiah seperti saat kamu mencintai benda kenanganmu? Nah, untuk membuktikan apakah sudah mencintai Rupiah atau belum, mari lakukan hal sederhana berikut ini.

1.      Pernah mencari tahu mengapa Rupiah itu ada dan arti pentingnya?

2.      Coba cek uangmu dalam dompet, apa yang kamu menyimpan Rupiah di dompetmu dengan rapi (tetap lurus) atau dilipat?

3.      Pernahkah kamu melakukan ini? Mencoret uang atau menemukan coretan pada uang?

4.      Uang kembaliannya ditukar permen saja. Pernah?

5.      Uang nominal kecil terabaikan, nominalnya besar dijaga rapi. Iya atau tidak?

6.      Paling sering yang mana? Menerima uang lecek atau rapi dan bersih?

7.      Tetapi, pasti kamu pernah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan uang bukan? Bahkan rela kerja lembur, banting tulang untuk mencari Rupiah kan?

Hayo yang senyum-senyum pasti pernah melakukannya.

 

Jadi, sudahkah kamu mencintai Rupiah setulus hatimu? Ya, meskipun dengan cara yang sederhana. Atau sejauh ini kamu masih sekedar mencintai nominalnya saja? Sebelum beranjak lebih jauh, simak dulu yuk tentang sejarah Rupiah.

Rupiah. Mengapa Rupiah itu ada?

           Pada mulanya, Negara Indonesia belum memiliki mata uang sendiri. Mata uang yang beredar di seluruh wilayah Indonesia meliputi mata uang dari peninggalan Hindia Belanda, Jepang, NICA dan lain sebagainya. Adanya jenis mata uang yang beragam, menyebabkan terjadinya inflasi dan kekacauan ekonomi. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengembalikan kestabilan ekonomi adalah mengeluarkan mata uang Indonesia yang untuk pertama kalinya disebut Oeang Republik Indonesia. Keberadaan uang ini tidak berlangsung lama dan digantikan dengan mata uang RIS saat Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1950. Selanjutnya, setelah adanya Bank Indonesia, muncullah mata uang Rupiah dan berlaku hingga sekarang sebagai alat pembayaran yang sah. Kata Rupiah berasal dari kata rupee (India) dan rupia (Mongolia) yang berarti perak (Mauliana, 2017).

           Rupiah memiliki arti penting bagi Indonesia. Tak hanya sekedar nama, Rupiah adalah wujud perjuangan dan tanda kemerdekaan Negara Indonesia dari kesengsaraan perekonomian di masa lampau. Rupiah merupakan bukti kemandirian Indonesia dalam bidang ekonomi. Selain itu, Rupiah adalah identitas bangsa atau boleh dikatakan sebagai ‘wajah’ Indonesia. Mengapa demikian? Di setiap lembar Rupiah kita dapat menemukan gambar pahlawan nasional di satu sisi dan pemandangan alam, tarian, atau kekhasan daerah di sisi yang lain. Bahkan, lambang burung garuda selalu ada, baik dalam uang kertas, logam, atau perak.

“Setiap lembar Rupiah adalah bukti kemandirian Indonesia, kemandirian ekonomi kita di tengah ekonomi dunia. Dan di dalam setiap lembar Rupiah kita tampilkan gambar pahlawan nasional, tari nusantara, dan pemandangan alam Indonesia sebagai wujud kecintaan budaya dan karakteristik bangsa Indonesia,” papar Presiden Joko Widodo (Sekretariat Kabiner RI, 2016).

Pssttt…sampai disini, sudahkah kamu berpikir untuk lebih mencintai Rupiah?

           Agar kamu semakin cinta, perlu kamu ketahui bahwa proses pembuatan Rupiah memerlukan waktu yang cukup lama. Mulai dari pembuatan gambar hingga pendistribusian uang ke seluruh wilayah, dilakukan dengan setulus hati. Dari majalah yang pernah saya baca, pembuatan gambar pada uang, khususnya gambar pahlawan, memerlukan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu. Bahkan si pelukis akan mengunjungi tempat kediaman keluarga atau ahli waris untuk memperoleh gambaran dari sosok yang dimaksud, meskipun harus melakukan perjalanan jauh.  Proses pembuatan gambar disesuaikan dengan deskripsi dari ahli waris tokoh/pahlawan.

           Di lokasi pembuatannya, Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), pengamanan dilakukan dengan sangat ketat. Tidak sembarang orang boleh masuk. Setiap pengunjung atau karyawan yang masuk ataupun keluar, digeledah oleh petugas keamanan. Seluruh barang bawaan, termasuk uang pribadi wajib disimpan dalam loker yang telah disediakan (Zulfi, 2015).

           Setelah uang Rupiah selesai diproduksi, uang diperiksa kembali. Sebelumnya, proses pemeriksaan uang dilakukan secara manual dengan melibatkan 170 orang sebanyak dua kali. Namun, pada saat ini, Peruri sudah mengoperasikan tiga mesin pemeriksa yang lebih akurat (Luthfiana, 2017). Dan tahukah kamu, proses pendistribusian Rupiah juga dikawal oleh aparat keamanan bersenjata lho. Nah, semua yang dilakukan ini sebagai wujud bukti cinta terhadap Rupiah. Tidak boleh ada kesalahan saat uang beredar dan tetap dijaga dari penyalahgunaan. Keren kan?

Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan sebagai wujud Cinta Rupiah?

Ya, kembali pada makna penggalan puisi Sapardi Djoko Damono. Sepantasnya, cintai Rupiah dengan caramu. Tak perlu muluk-muluk, apa adanya saja dan setulus hati. Cintai Rupiah dengan sederhana.

Tujuh hal sederhana dan cerdas yang dapat kamu lakukan. Apa saja?

1.      Kenali Rupiah

Katanya, tak kenal maka tak sayang. Seberapa jauh kamu mengenal seseorang, turut menentukan seberapa besar rasa cintamu kepadanya. Demikian pula dengan Rupiah. Kenali Rupiah, sehingga kamu mencintainya. Setidaknya, kamu mengetahui tentang sejarah, arti pentingnya, proses pembuatan hingga pemanfaatan Rupiah dalam kehidupan.

2.      Rawat Rupiah dengan baik dengan Stop 8M (Melipat, Merusak, Merobek, Mencoret, Mengotori, Membakar, Memotong, dan Melubangi)

Bagaimana caranya? Misalnya pada saat menyimpan uang dalam dompet, usahakan dengan posisi lurus dan rapi. Contoh lainnya adalah tidak merusak uang dengan menstaples uang kertas atau mengikat uang dengan karet. Sedih rasanya, ketika suatu hari, saya menerima uang Rupiah seribuan yang penuh coretan menggunakan pena, sehingga tampak lusuh dan kotor. Rupiah adalah alat pembayaran, bukan kertas atau media untuk bertukar informasi (menulis).

Namun, meskipun kamu sangat mencintai Rupiah, tetap gunakan Rupiah agar perputaran Rupiah tetap terjadi dan mengalami pergantian. Jangan terlalu lama disimpan. Sebab, lama kelamaan, uang Rupiah dapat rusak karena jamur dan berbau.

3.      Selalu gunakan Rupiah di dalam negeri dan tingkatkan kepercayaan terhadap Rupiah

Nah, mungkin hal ini mudah dilakukan bagi sebagian besar orang, karena mata uang yang berlaku di Indonesia adalah Rupiah. Selalu gunakan Rupiah untuk membeli produk-produk dalam negeri. Selain membantu perekonomian pelaku usaha dalam negeri, hal seperti ini juga sebagai bentuk rasa cinta kamu terhadap produk Indonesia dan tentunya Rupiah. Cobalah menggunakan Rupiah dalam segala hal, misalnya berjualan dan berinvestasi. Hal ini juga turut mendukung tingkat kepercayaan terhadap Rupiah. Mengapa? Menurut artikel Glienmourinsie (2015), penurunan kepercayaan rumah tangga terhadap Rupiah dapat melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.

Sedikit cerita pengalaman, saya pernah menukarkan uang Rupiah Rp500.000,00 ke mata uang Ringgit Malaysia. Jumlah uang yang saya terima sekitar 148 Ringgit. Si pemilik tempat penukaran uang mengatakan bahwa saat di Malaysia, gunakan uang dengan nominal paling kecil. Jika nanti uangnya sisa dan nominalnya masih tinggi (misalnya 50 Ringgit), maka Rupiah yang akan saya dapat juga tinggi. Intinya, nilai tukar Rupiah di pasaran cukup lemah dibanding mata uang asing.

4.      Hargai Rupiah, sekecil apapun nominalnya.

Tentu kamu sudah pernah membayar uang parkir bukan? Berapa Rupiah? Biasanya Rp1000,00 hingga Rp3000,00 tergantung jenis kendaraannya. Atau mungkin pernahkah menemukan uang di jalan? Mana yang akan kamu ambil, Rp100,00 atau Rp100.000,00? Kamu sendiri yang tahu jawabannya. Tetapi, sekecil apapun nominalnya uang itu, semuanya Rupiah, jadi hargai dan perlakukan setiap nominal, receh atau kertas dengan cara yang sama.

5.      Tukar apabila memang kondisinya sudah tidak layak (lusuh, rusak atau keduanya)

Apa bedanya uang lusuh dan uang rusak?

Uang lusuh adalah uang yang ukurannya tidak berubah, namun terjadi perubahan kondisi fisik akibat dilipat, terkena minyak atau coretan. Sementara, uang rusak adalah uang yang ukurannya berubah dari ukuran aslinya akibat perlakuan fisik seperti berlubang, hilang sebagian atau terbakar (Bank Indonesia, n.y.)

Nah, apabila uang milikmu kondisinya sudah tidak layak seperti yang disebutkan di atas, kamu bisa menukarkan uangmu itu ke Bank Indonesia. Nantinya, uangmu akan diganti sesuai dengan nominalnya, dengan mempertimbangkan persyaratan yang harus dipenuhi. Misalnya, jika uangmu sobek dan hanya tersisa kurang dari 2/3 ukuran asli, maka uangmu tidak bisa diganti. Jadi, jaga dan rawat uangmu ya.

6.      Stop informasi bohong/hoax, atau segala sesuatu yang merendahkan Rupiah.

Jika kamu memperoleh informasi terkait dengan Rupiah yang belum jelas kebenarannya atau merendahkan (misalnya mengina) Rupiah, maka sebaiknya hentikan terlebih dahulu. Pastikan dan cari tahu informasi tersebut dari sumber yang valid. Satu hal yang perlu diingat bahwa Rupiah adalah identitas Negara Indonesia dan sebagai bagian dari Indonesia, merendahkan Rupiah sama halnya dengan merendahkan diri sendiri.

7.      Gunakan Rupiah untuk melalukan hal bermanfaat dan bijak, misalnya untuk bersedekah.

Salah satu hal yang mulia, apabila kamu menggunakan Rupiah untuk bersedekah. Berbagi kepada sesama dan ladang pahala, daripada digunakan untuk membeli hal-hal yang membawa dampak negatif. Ya, tak sekedar mencintai Rupiah, tetapi juga mencintai saudaramu.

Tiga hal sederhana yang harus dihentikan untuk dilakukan

1.      Melipat, Merusak, Merobek, Mencoret, Mengotori, Membakar, Memotong, dan Melubangi (Stop 8M).

Tahukah kamu, seseorang yang sengaja merusak uang misalnya memotong, dapat dikenai sanksi penjara maksimal lima tahun dan denda uang maksimal sebesar satu milyar (Firmanto, 2016). Wah, jangan sampai kamu melakukan ini ya.

2.      Menggunakan Rupiah untuk hal tercela

3.      Menyebar berita hoax atau melemahkan Rupiah

          Singkatnya, ada tiga hal untuk menyematkan Cinta Rupiah di hati dengan cara sederhana. Sebut saja TriCa, yang terdiri dari Cermat dengan 3D (Dilihat, Diraba, Ditrawang), Cerdas dengan 7 hal sederhana (seperti yang sudah dipaparkan di atas) dan Cinta terhadap Rupiah.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api

yang menjadikannya abu

…”

Sapardi Djoko Damono dalam ‘Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana”

          Ayo, sematkan dalam hati Cinta Rupiah dan wujudkan cintamu dalam kehidupan, meskipun dengan cara yang sederhana. Kita sudah tak perlu berperang dengan senjata lengkap. Selalu cinta Rupiah dan tetap memiliki jiwa berbagi untuk mereka yang membutuhkan. Jangan biarkan mereka patah hati karena Rupiah tak selalu menghidupi. Dan jangan sampai suatu waktu, cinta itu tak dapat kamu utarakan dan buktikan, karena terlambat. Rupiah adalah milikku, milikmu dan milik kita bersama.

 

Daftar Pustaka

Bank Indonesia, n.y. Tanya Jawab : Uang Rupiah Tidak Layak Edar : Uang Rusak dan Uang Lusuh. Diakses dari www.bi.go.id/id/Rupiah/tanyajawab/Documents/FAQUangRusak

UangLusuh.pdf, pada tanggal 10 Januari 2018.

Glienmourinsie, D. 2015. Ini Enam Faktor Penyebab Rupiah Semakin Terpuruk. Diakses dari https://ekbis.sindonews.com/read/1048853/33/ini-enam-faktor-penyebab-Rupiah-semakin-terpuruk-1443505258, pada tanggal 10 Januari 2018.

Luthfiana, H. 2017. Yuk, Intip Proses Pencetakan Uang Rupiah Baru di Peruri. Diakses dari https://bisnis.tempo.co/read/837554/yuk-intip-proses-pencetakan-uang-Rupiah-baru-di-peruri, pada tanggal 9 Januari 2018

Muliana, V.A. 2017. Dari ORI hingga Rupiah, Ini Sejarah Uang NKRI. Diakses dari http://bisnis.liputan6.com/read/3145147/dari-ori-hingga-Rupiah-ini-sejarah-uang-nkri, pada tanggal 10 Januari 2018.

Sekretariat Kabiner RI, 2016. Mencintai Rupiah Berarti Mencintai Kedaulatan. Diakses dari http://www.presidenri.go.id/berita-aktual/mencintai-Rupiah-berarti-mencintai-kedaulatan.html, pada tanggal 9 Januari 2018.

Zulfi, 2015. Masuk Pabrik Percetakan Uang Peruri, Jangan Harap Bisa Bawa Ponsel. Diakses dari https://finance.detik.com/moneter/2879136/masuk-pabrik-percetakan-uang-peruri-jangan-harap-bisa-bawa-ponsel, pada tanggal 10 Januari 2018.