Berbicara tentang cinta, rasanya tidak akan ada habisnya. Setiap insan yang hidup di dunia, tentu pernah atau tengah merasakan cinta. Baik cinta kepada pasangan, keluarga, sahabat, bahkan rasa cinta kasih kepada hewan peliharaan. Ya, cinta tak sekedar melibatkan ucapan dan perbuatan, tetapi didasari oleh rasa yang muncul dari hati. Bahkan, banyak yang mengungkapkan bahwa cinta yang dalam tak akan cukup disampaikan dengan kata-kata. Seperti salah satu penggalan puisi dari penyair kondang berikut ini.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhanaseperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu
…”
Sapardi Djoko Damono dalam “Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana”
Lalu apa yang akan kamu lakukan jika kamu mencintai sesuatu? Benda kenangan misalnya. Tentu kamu akan menjaga, merawat dan menyimpannya dengan baik bukan? Bagaimana jika sesuatu yang harusnya kamu cintai itu adalah Rupiah, mata uang negaramu? Lalu, pernahkah kamu bersikap mencintai Rupiah seperti saat kamu mencintai benda kenanganmu? Nah, untuk membuktikan apakah sudah mencintai Rupiah atau belum, mari lakukan hal sederhana berikut ini.
1. Pernah mencari tahu mengapa Rupiah itu ada dan arti pentingnya?
2. Coba cek uangmu dalam dompet, apa yang kamu menyimpan Rupiah di dompetmu dengan rapi (tetap lurus) atau dilipat?
3. Pernahkah kamu melakukan ini? Mencoret uang atau menemukan coretan pada uang?
4. Uang kembaliannya ditukar permen saja. Pernah?
5. Uang nominal kecil terabaikan, nominalnya besar dijaga rapi. Iya atau tidak?
6. Paling sering yang mana? Menerima uang lecek atau rapi dan bersih?
7. Tetapi, pasti kamu pernah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan uang bukan? Bahkan rela kerja lembur, banting tulang untuk mencari Rupiah kan?
Hayo yang senyum-senyum pasti pernah melakukannya.
Jadi, sudahkah kamu mencintai Rupiah setulus hatimu? Ya, meskipun dengan cara yang sederhana. Atau sejauh ini kamu masih sekedar mencintai nominalnya saja? Sebelum beranjak lebih jauh, simak dulu yuk tentang sejarah Rupiah.
Rupiah. Mengapa Rupiah itu ada?
Pada mulanya, Negara Indonesia belum memiliki mata uang sendiri. Mata uang yang beredar di seluruh wilayah Indonesia meliputi mata uang dari peninggalan Hindia Belanda, Jepang, NICA dan lain sebagainya. Adanya jenis mata uang yang beragam, menyebabkan terjadinya inflasi dan kekacauan ekonomi. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengembalikan kestabilan ekonomi adalah mengeluarkan mata uang Indonesia yang untuk pertama kalinya disebut Oeang Republik Indonesia. Keberadaan uang ini tidak berlangsung lama dan digantikan dengan mata uang RIS saat Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1950. Selanjutnya, setelah adanya Bank Indonesia, muncullah mata uang Rupiah dan berlaku hingga sekarang sebagai alat pembayaran yang sah. Kata Rupiah berasal dari kata rupee (India) dan rupia (Mongolia) yang berarti perak (Mauliana, 2017).
Rupiah memiliki arti penting bagi Indonesia. Tak hanya sekedar nama, Rupiah adalah wujud perjuangan dan tanda kemerdekaan Negara Indonesia dari kesengsaraan perekonomian di masa lampau. Rupiah merupakan bukti kemandirian Indonesia dalam bidang ekonomi. Selain itu, Rupiah adalah identitas bangsa atau boleh dikatakan sebagai ‘wajah’ Indonesia. Mengapa demikian? Di setiap lembar Rupiah kita dapat menemukan gambar pahlawan nasional di satu sisi dan pemandangan alam, tarian, atau kekhasan daerah di sisi yang lain. Bahkan, lambang burung garuda selalu ada, baik dalam uang kertas, logam, atau perak.
“Setiap lembar Rupiah adalah bukti kemandirian Indonesia, kemandirian ekonomi kita di tengah ekonomi dunia. Dan di dalam setiap lembar Rupiah kita tampilkan gambar pahlawan nasional, tari nusantara, dan pemandangan alam Indonesia sebagai wujud kecintaan budaya dan karakteristik bangsa Indonesia,” papar Presiden Joko Widodo (Sekretariat Kabiner RI, 2016).
Pssttt…sampai disini, sudahkah kamu berpikir untuk lebih mencintai Rupiah?
Agar kamu semakin cinta, perlu kamu ketahui bahwa proses pembuatan Rupiah memerlukan waktu yang cukup lama. Mulai dari pembuatan gambar hingga pendistribusian uang ke seluruh wilayah, dilakukan dengan setulus hati. Dari majalah yang pernah saya baca, pembuatan gambar pada uang, khususnya gambar pahlawan, memerlukan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu. Bahkan si pelukis akan mengunjungi tempat kediaman keluarga atau ahli waris untuk memperoleh gambaran dari sosok yang dimaksud, meskipun harus melakukan perjalanan jauh. Proses pembuatan gambar disesuaikan dengan deskripsi dari ahli waris tokoh/pahlawan.
Di lokasi pembuatannya, Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri), pengamanan dilakukan dengan sangat ketat. Tidak sembarang orang boleh masuk. Setiap pengunjung atau karyawan yang masuk ataupun keluar, digeledah oleh petugas keamanan. Seluruh barang bawaan, termasuk uang pribadi wajib disimpan dalam loker yang telah disediakan (Zulfi, 2015).
Setelah uang Rupiah selesai diproduksi, uang diperiksa kembali. Sebelumnya, proses pemeriksaan uang dilakukan secara manual dengan melibatkan 170 orang sebanyak dua kali. Namun, pada saat ini, Peruri sudah mengoperasikan tiga mesin pemeriksa yang lebih akurat (Luthfiana, 2017). Dan tahukah kamu, proses pendistribusian Rupiah juga dikawal oleh aparat keamanan bersenjata lho. Nah, semua yang dilakukan ini sebagai wujud bukti cinta terhadap Rupiah. Tidak boleh ada kesalahan saat uang beredar dan tetap dijaga dari penyalahgunaan. Keren kan?
Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan sebagai wujud Cinta Rupiah?
Ya, kembali pada makna penggalan puisi Sapardi Djoko Damono. Sepantasnya, cintai Rupiah dengan caramu. Tak perlu muluk-muluk, apa adanya saja dan setulus hati. Cintai Rupiah dengan sederhana.
Tujuh hal sederhana dan cerdas yang dapat kamu lakukan. Apa saja?
1. Kenali Rupiah
Katanya, tak kenal maka tak sayang. Seberapa jauh kamu mengenal seseorang, turut menentukan seberapa besar rasa cintamu kepadanya. Demikian pula dengan Rupiah. Kenali Rupiah, sehingga kamu mencintainya. Setidaknya, kamu mengetahui tentang sejarah, arti pentingnya, proses pembuatan hingga pemanfaatan Rupiah dalam kehidupan.
2. Rawat Rupiah dengan baik dengan Stop 8M (Melipat, Merusak, Merobek, Mencoret, Mengotori, Membakar, Memotong, dan Melubangi)
Bagaimana caranya? Misalnya pada saat menyimpan uang dalam dompet, usahakan dengan posisi lurus dan rapi. Contoh lainnya adalah tidak merusak uang dengan menstaples uang kertas atau mengikat uang dengan karet. Sedih rasanya, ketika suatu hari, saya menerima uang Rupiah seribuan yang penuh coretan menggunakan pena, sehingga tampak lusuh dan kotor. Rupiah adalah alat pembayaran, bukan kertas atau media untuk bertukar informasi (menulis).
Namun, meskipun kamu sangat mencintai Rupiah, tetap gunakan Rupiah agar perputaran Rupiah tetap terjadi dan mengalami pergantian. Jangan terlalu lama disimpan. Sebab, lama kelamaan, uang Rupiah dapat rusak karena jamur dan berbau.
3. Selalu gunakan Rupiah di dalam negeri dan tingkatkan kepercayaan terhadap Rupiah
Nah, mungkin hal ini mudah dilakukan bagi sebagian besar orang, karena mata uang yang berlaku di Indonesia adalah Rupiah. Selalu gunakan Rupiah untuk membeli produk-produk dalam negeri. Selain membantu perekonomian pelaku usaha dalam negeri, hal seperti ini juga sebagai bentuk rasa cinta kamu terhadap produk Indonesia dan tentunya Rupiah. Cobalah menggunakan Rupiah dalam segala hal, misalnya berjualan dan berinvestasi. Hal ini juga turut mendukung tingkat kepercayaan terhadap Rupiah. Mengapa? Menurut artikel Glienmourinsie (2015), penurunan kepercayaan rumah tangga terhadap Rupiah dapat melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
Sedikit cerita pengalaman, saya pernah menukarkan uang Rupiah Rp500.000,00 ke mata uang Ringgit Malaysia. Jumlah uang yang saya terima sekitar 148 Ringgit. Si pemilik tempat penukaran uang mengatakan bahwa saat di Malaysia, gunakan uang dengan nominal paling kecil. Jika nanti uangnya sisa dan nominalnya masih tinggi (misalnya 50 Ringgit), maka Rupiah yang akan saya dapat juga tinggi. Intinya, nilai tukar Rupiah di pasaran cukup lemah dibanding mata uang asing.
4. Hargai Rupiah, sekecil apapun nominalnya.
Tentu kamu sudah pernah membayar uang parkir bukan? Berapa Rupiah? Biasanya Rp1000,00 hingga Rp3000,00 tergantung jenis kendaraannya. Atau mungkin pernahkah menemukan uang di jalan? Mana yang akan kamu ambil, Rp100,00 atau Rp100.000,00? Kamu sendiri yang tahu jawabannya. Tetapi, sekecil apapun nominalnya uang itu, semuanya Rupiah, jadi hargai dan perlakukan setiap nominal, receh atau kertas dengan cara yang sama.
5. Tukar apabila memang kondisinya sudah tidak layak (lusuh, rusak atau keduanya)
Apa bedanya uang lusuh dan uang rusak?
Uang lusuh adalah uang yang ukurannya tidak berubah, namun terjadi perubahan kondisi fisik akibat dilipat, terkena minyak atau coretan. Sementara, uang rusak adalah uang yang ukurannya berubah dari ukuran aslinya akibat perlakuan fisik seperti berlubang, hilang sebagian atau terbakar (Bank Indonesia, n.y.)
Nah, apabila uang milikmu kondisinya sudah tidak layak seperti yang disebutkan di atas, kamu bisa menukarkan uangmu itu ke Bank Indonesia. Nantinya, uangmu akan diganti sesuai dengan nominalnya, dengan mempertimbangkan persyaratan yang harus dipenuhi. Misalnya, jika uangmu sobek dan hanya tersisa kurang dari 2/3 ukuran asli, maka uangmu tidak bisa diganti. Jadi, jaga dan rawat uangmu ya.
6. Stop informasi bohong/hoax, atau segala sesuatu yang merendahkan Rupiah.
Jika kamu memperoleh informasi terkait dengan Rupiah yang belum jelas kebenarannya atau merendahkan (misalnya mengina) Rupiah, maka sebaiknya hentikan terlebih dahulu. Pastikan dan cari tahu informasi tersebut dari sumber yang valid. Satu hal yang perlu diingat bahwa Rupiah adalah identitas Negara Indonesia dan sebagai bagian dari Indonesia, merendahkan Rupiah sama halnya dengan merendahkan diri sendiri.
7. Gunakan Rupiah untuk melalukan hal bermanfaat dan bijak, misalnya untuk bersedekah.
Salah satu hal yang mulia, apabila kamu menggunakan Rupiah untuk bersedekah. Berbagi kepada sesama dan ladang pahala, daripada digunakan untuk membeli hal-hal yang membawa dampak negatif. Ya, tak sekedar mencintai Rupiah, tetapi juga mencintai saudaramu.
Tiga hal sederhana yang harus dihentikan untuk dilakukan
1. Melipat, Merusak, Merobek, Mencoret, Mengotori, Membakar, Memotong, dan Melubangi (Stop 8M).
Tahukah kamu, seseorang yang sengaja merusak uang misalnya memotong, dapat dikenai sanksi penjara maksimal lima tahun dan denda uang maksimal sebesar satu milyar (Firmanto, 2016). Wah, jangan sampai kamu melakukan ini ya.
2. Menggunakan Rupiah untuk hal tercela
3. Menyebar berita hoax atau melemahkan Rupiah
Singkatnya, ada tiga hal untuk menyematkan Cinta Rupiah di hati dengan cara sederhana. Sebut saja TriCa, yang terdiri dari Cermat dengan 3D (Dilihat, Diraba, Ditrawang), Cerdas dengan 7 hal sederhana (seperti yang sudah dipaparkan di atas) dan Cinta terhadap Rupiah.
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu
…”
Sapardi Djoko Damono dalam ‘Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana”
Ayo, sematkan dalam hati Cinta Rupiah dan wujudkan cintamu dalam kehidupan, meskipun dengan cara yang sederhana. Kita sudah tak perlu berperang dengan senjata lengkap. Selalu cinta Rupiah dan tetap memiliki jiwa berbagi untuk mereka yang membutuhkan. Jangan biarkan mereka patah hati karena Rupiah tak selalu menghidupi. Dan jangan sampai suatu waktu, cinta itu tak dapat kamu utarakan dan buktikan, karena terlambat. Rupiah adalah milikku, milikmu dan milik kita bersama.
Daftar Pustaka
Bank Indonesia, n.y. Tanya Jawab : Uang Rupiah Tidak Layak Edar : Uang Rusak dan Uang Lusuh. Diakses dari www.bi.go.id/id/Rupiah/tanyajawab/Documents/FAQUangRusak
UangLusuh.pdf, pada tanggal 10 Januari 2018.
Glienmourinsie, D. 2015. Ini Enam Faktor Penyebab Rupiah Semakin Terpuruk. Diakses dari https://ekbis.sindonews.com/read/1048853/33/ini-enam-faktor-penyebab-Rupiah-semakin-terpuruk-1443505258, pada tanggal 10 Januari 2018.
Luthfiana, H. 2017. Yuk, Intip Proses Pencetakan Uang Rupiah Baru di Peruri. Diakses dari https://bisnis.tempo.co/read/837554/yuk-intip-proses-pencetakan-uang-Rupiah-baru-di-peruri, pada tanggal 9 Januari 2018
Muliana, V.A. 2017. Dari ORI hingga Rupiah, Ini Sejarah Uang NKRI. Diakses dari http://bisnis.liputan6.com/read/3145147/dari-ori-hingga-Rupiah-ini-sejarah-uang-nkri, pada tanggal 10 Januari 2018.
Sekretariat Kabiner RI, 2016. Mencintai Rupiah Berarti Mencintai Kedaulatan. Diakses dari http://www.presidenri.go.id/berita-aktual/mencintai-Rupiah-berarti-mencintai-kedaulatan.html, pada tanggal 9 Januari 2018.
Zulfi, 2015. Masuk Pabrik Percetakan Uang Peruri, Jangan Harap Bisa Bawa Ponsel. Diakses dari https://finance.detik.com/moneter/2879136/masuk-pabrik-percetakan-uang-peruri-jangan-harap-bisa-bawa-ponsel, pada tanggal 10 Januari 2018.