Mengenalmu dalam Sepucuk Surat

Damar tersenyum seorang diri. Ia memandang seorang  perempuan berkerudung, yang tengah berdiri tidak jauh dari tempat duduknya. Dia Aisyah. Gadis cantik yang pernah diperkenalkan sahabatnya beberapa waktu lalu. Kulit wajahnya yang putih tampak sangat serasi dengan kerudung hijau yang ia kenakan. Dia tak sendirian. Seorang laki-laki bertubuh tegap sedang bersamanya. Aisyah menyebutnya Mas Iwan, Kakak kandungnya yang baru tiba dari Jakarta.

“Astaghfirullah, apa yang terjadi denganku? Aku harus menahan diri. Aku sedang berpuasa,” Damar segera memalingkan wajahnya.

Rupanya, sikap Damar yang memperhatikan Aisyah dalam waktu yang cukup lama itu, mencuri perhatian Mas Iwan. Lantas dia menghampiri Damar untuk mengajaknya berbicara. Sementara Aisyah sudah pulang terlebih dahulu. Pembicaraan semakin serius setelah Mas Iwan mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Damar terkejut.

“Kamu menyukai adikku?”

Damar hanya terdiam. Ada gejolak rasa yang melejit hebat di hatinya. Apa ini? Cintakah?

“Damar, katakanlah yang sejujurnya kamu rasakan sekarang. Aku tak akan marah kepadamu. Walaupun baru beberapa kali aku bertemu denganmu, aku percaya, kamu adalah orang yang baik. Pantas untuk menjadi imam bagi keluarga adikku kelak. Jika memang kamu yakin dengannya, aku bisa membantumu.”

Entah apa penyebabnya, tiba-tiba ada keyakinan yang timbul dalam benaknya bahwa Aisyah adalah perempuan yang tepat untuk menjadi pendampingnya. Meskipun tak langsung menatap matanya, benih-benih cinta itu mulai tumbuh sejak mereka pertama bertemu.

“Benarkah itu Mas? Aku tak ingin bermain-main saja dengan cinta yang kumiliki ini.”

“Aku paham. Besok kita bertemu di taman depan Pondok Pesantren Al Hidayah. Aku akan memberikanmu sesuatu.”

Damar mengangguk. Rasanya tak sabar menunggu hari esok tiba.

Keesokan harinya, Mas Iwan menepati janjinya. Dia datang sambil membawa sebuah amplop putih. Di bagian depan tertulis “Jika kamu yakin denganku, maka lakukanlah apa yang kutuliskan di dalamnya”. Demikianlah bunyi kalimat itu. Sebelum Mas Iwan pergi, dia sempat mengatakan suatu hal.

“Lakukan semuanya dengan hatimu. Cintai adikku karena Allah, bukan karena kamu ingin memenuhi nafsumu. Buatlah adikku yakin denganmu. Ingat dia sangat menyukai kejujuran dari seorang laki-laki,” katanya sambil tersenyum.

Sesampainya di rumah, Damar segera membuka surat itu. Isinya singkat. Hanya beberapa kalimat yang ditulis dengan tangan dengan sangat rapi.

Assalamu’alaikum wr. wb.

            Mas Damar, Aisyah sudah mendengar semua dari Mas Iwan. Namun, Aisyah membutuhkan waktu untuk mengenal Mas Damar lebih jauh lagi. Demikian pula dengan Mas Damar. Terlebih kita baru saja bertemu dalam dua kali kesempatan. Dalam ta’aruf ini, sebagai perkenalan, Aisyah ingin Mas Damar menuliskan semua hal tentang diri Mas Damar, lengkap dengan identitas, keluarga, kelebihan dan kekurangan yang ditulis dengan tangan. Selain itu, apabila Mas Iwan ingin menyampaikan hal yang lain, itu akan lebih baik. Aisyah juga akan membuatnya, Mas. Tiga hari kemudian, kita akan bertukar tulisan kita lewat kakakku. Semoga Mas Damar berkenan. Cukup sekian, terima kasih.

            Wassalamu’alaikum wr. wb.

Damar tersenyum sejenak. Perempuan yang unik, pikirnya. Dia semakin yakin bahwa Aisyah adalah perempuan yang pantas menjadi istrinya. Petunjuk dan jawaban atas doanya mulai diperlihatkan satu per satu. Dia pun akan berusaha terus memantaskan dirinya menjadi pasangan hidup untuk Aisyah.

Selepas sholat malam, Damar mengambil kertas dan pena. Ia ingin menuliskan dalam keadaan yang tenang. Semua hal yang yang dia tulis seperti keadaannya, tanpa dibuat-buat. Damar percaya, jika Aisyah memang jodohnya, maka ia akan menerima semua kekurangan yang dimilikinya.

Tiga hari kemudian, Damar bertemu dengan Mas Iwan di tempat yang sama seperti dulu. Ia menukarkan tulisan yang dibuat Aisyah dengan tulisan Damar.

“Tunggulah jawaban adikku, selalu berdoa kepada Allah. Jika benar dia jodohmu, maka kamu tidak akan dipersulit,” ungkapnya sambil tersenyum.

Damar meninggalkan taman dengan penuh harapan. Rasa penasaran menyeruak ingin segera membaca tulisan itu. Ia pun tak sabar menunggu hari dimana Aisyah akan memberikannya jawaban. Sebuah jawaban yang akan melegakan hatinya.

Rupanya Aisyah bimbang dalam menentukan keputusan. Sudah seminggu jawaban yang diharapkan tidak kunjung ada. Damar mulai cemas. Apakah keinginannya ditolak? Ia pun mengirimkan surat kepada Aisyah untuk mengurangi rasa penasarannya. Balasan surat diterimanya dalam selang waktu sehari.

Assalamu’alaikum wr. wb.

            Mas Damar, maaf karena Aisyah terlalu lama merenungkan semua ini hingga tanpa sadar sudah membuat Mas Damar menunggu terlalu lama. Aisyah tak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan, Mas. Dari petunjuk yang Allah berikan dan hasil pertimbangan dari orang tua Aisyah, akhirnya Aisyah mampu mengatasi kebimbangan ini. Aisyah menerima Mas Damar karena Allah. Semoga Mas Damar mencintai Aisyah karena Allah dan menerima Aisyah dengan apa adanya. Aisyah selalu berdoa, semoga keputusan ini adalah yang terbaik untuk kita.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Pada kalimat terakhir dari surat, Damar membacanya berulang, meyakinkan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Matanya berkaca-kaca sebab ia bahagia. Damar mengucap syukur atas apa yang diperolehnya kini. Kabar gembira segera disampaikan kepada ayah dan ibunya. Dengan bahagia mereka merestui Damar. Perkenalan yang singkat itu diakhiri dengan pernikahan yang sederhana.

Memang, dua insan yang berjodoh tak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk saling mencintai. Pertemuan yang singkat terkadang sudah cukup sebagai sebuah perkenalan. Sebagai seorang laki-laki bila sudah mampu, mengapa harus menunggu? Segera saja menikah. Demikian pula dengan perempuannya. Perkenalan yang terlalu lama tak selalu berakhir dengan kebersamaan. Karena mereka yang berjodoh dan memiliki cinta sejati yang kuat akan menerima dan melengkapi kekurangan pasangannya. Selain itu, cintailah pasanganmu karena Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.