Bukankah semestinya dia menjadi bagian terpenting dari kehidupanmu?
Atau hanya sebagai sosok tanpa daya yang dapat diperlakukan sesukanya?
Coba tengoklah saat yang menjadi hak dia kamu rampas! Rasakanlah ketika dia tertatih-tatih menjagamu, dengan sisa-sisa tubuh yang perlahan kamu hancurkan!
Tetapi apa balasmu? Bahkan kamu katakan, seolah dia sumber dari setiap kesakitanmu!
Hei, renungkanlah!
Aku hanyalah separuh dari kisahnya. Melihat tertawa kejam orang-orang biadab yang selalu merenggut kebahagiannya. Tangan-tangan keji yang tak pernah mau mengembalikan senyumannya. Sedikitpun. Walaupun dengan cara yang sederhana. Ya, sederhana saja. Tukar sesuatu yang mereka ambil. Tak harus sama, tetapi cukuplah bagi dia untuk tetap menjaga keberlangsungannya. Agar tetap gagah menjaga hembusan napasmu.
Bagaimana dengan dia?
Lihat, dia tak pernah langsung marah kepadamu. Meskipun deraan rasa sakit menimpanya.
Ah, aku tak habis pikir pada tingkah laku orang-orang itu. Tentu hanya untuk kebahagiaannya sesaat. Sudahlah. Bukankah mereka pun mengerti, bahwa sikapnya yang akan membinasakan mereka kelak?
Diantara pohon berakar kuat dan berdaun lebat itu, seorang lelaki tampak menggerutu. Ya, dia, si Lelaki Hutan. Rupanya dia tak menyukai ketika lamunannya diganggu. Suara tangis yang terdengar nyaring, menggema di dalam hutan yang sunyi. Siapa gerangan? Ada-ada saja. Dengan gesit, dia mendatangi sumber tangisan.
“Mengapa menangis?” Tanyanya sinis.
Gadis itu tak menjawab. Justru isakan tangisnya semakin keras saja. Dia menatap Lelaki Hutan dengan tajam, penuh selidik. Antara bingung dan takut.
“Oh tenang, aku tidak akan menyakitimu.”
“Aku tersesat.” Jawabnya lirih.
Sudah sekian puluh orang yang masuk ke dalam hutan ini akan tersesat. Sebagian mencoba mencari jalan pulang. Sisanya menunggu pencari kayu datang dan meminta pertolongan. Hal yang wajar ada orang tersesat di hutan ini. Tentu bukan warga asli Kampung Kumiko, desa kecil di seberang hutan.
“Ayo ikut aku. Aku antar kamu keluar dari sini!”
Gadis itu berdiri, berlari dan mengikuti langkah lelaki hutan.
“Kamu siapa?” Tanya dia.
Si lelaki diam tak bergeming. Seolah tak ada seorangpun yang mengajaknya berbicara.
“Mengapa diam saja? Namaku Resa.”
Ah, cerewet sekali gadis ini, pikirnya.
“Hei!” Dia berlari ke hadapan si lelaki. Berhenti. Dan mengangkat kedua tangannya sejajar bahu.
“Kamu berisik sekali! Lagipula kamu tidak perlu mengenalku. Cukup tahu saja. Dan jaga rahasia.”
“Mengapa seperti itu?”
“Sudahlah. Kamu tidak perlu tahu alasannya.”
Dia cemberut. Wajahnya yang bulat, tampak sangat lucu. Tanpa sadar si lelaki tertawa.
“Kamu lucu.” Sambil menahan tawa. Lalu mendesah perlahan.
“Kamu dari kota ya? Kamu tidak takut padaku? Bajuku lusuh, rambutku panjang dan wajahku berjenggot. ”
Resa menggeleng. “Aku dari kota, disini aku tinggal di rumah nenek. Dan mengapa aku harus takut padamu? Kamu manusia sepertiku kan? Kamu datang ke hutan ini untuk mencari kayu? Benar kan ramalanku?”
“Aku bukan manusia.”
Wajahnya terhenyak. Tentu saja, pasti dia terkejut dengan pengakuannya.
“Ah, tak mungkin. Kamu berbohong padaku kan?”
Si lelaki tertawa cekikikan. “Kamu gadis yang pintar. Aku memang manusia. Sebut aku Lelaki Hutan. Sejak lahir aku tinggal di tengah hutan ini. Aku adalah separuh dari kehidupan hutan ini. Ya, setiap saat aku harus menjaga hutan dari perilaku para penyamun satwa atau penebang kayu liar yang semena-mena. Meskipun aku kadang kecolongan juga. Aku sendiri. Aku pun bukan makhluk ghaib yang bisa berpindah tempat sesuka hati dan secepat kilat.”
Dia berhenti.
“Ada apa?”
“Sungguh? Lelaki hutan? Kamu tinggal di hutan sendirian?”
“Entah. Aku lebih senang disebut demikian. Meskipun, namaku sebenarnya adalah Sarji. Dan aku tinggal sendirian di hutan.”
“Nama yang bagus. Boleh aku memanggilmu Sarji?”
“Boleh.”
“Kamu tak pernah keluar dari hutan?”
“Sering. Pada malam hari. Hanya untuk sekedar pergi melihat perubahan yang terjadi. Walaupun aku tinggal di hutan, bukan berarti aku buta dunia luar. Ya, aku belajar dengan sembunyi-sembunyi. Orang-orang memang tak pernah tahu, bahwa ada aku yang tinggal disini.”
“Bagaimana kamu makan? Dan kamu tak punya saudara? Atau keinginan untuk tinggal di desa atau kota? Bukan di hutan ini.”
“Makan? Haha.. Kamu tidak lihat di hutan banyak sekali sumber makananku. Hutan memberikan segalanya. Air dan makanan. Bahkan udara yang segar sekalipun. Jika ditanya saudara, kata Kakekku, aku punya. Jauh di kota. Tetapi lebih nyaman berada disini. Menghabiskan sisa hidupku untuk menjaga keutuhan hutan ini.”
Resa termenung sejenak. “Dimana rumahmu ? Boleh aku datang berkunjung?”
Sarji terdiam. Dia tidak ingin rahasianya diketahui oleh siapapun. Termasuk Resa. Walaupun sepertinya dia adalah gadis yang baik. Tidak ada maksud jahat kepadanya. Sampai detik ini.
Tepat di ujung hutan, Sarji mengalihkan pembicaraan. “Lihat, di depan ada jalan setapak. Ikuti jalan setapak itu. Setelah menemukan jembatan, belok kanan melewati jembatan. Kita berpisah sampai disini. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia tentang pertemuan ini dan tentangku.”
Resa tersenyum. Dengan suka cita, dia berlari ke jalan setapak.
“Aku akan datang lagi besok!” Dia berseru.
Ah, yang benar saja.
Pagi-pagi, saat matahari mulai menyingsing di ujung barat. Resa sudah tiba di tempat dia tersesat.
“Benar-benar gadis yang keras kepala!” celetuk Sarji dari atas pepohonan.
“Turunlah. Aku datang membawa makanan untukmu. Aku yang membuatnya.”
Resa mengulurkan tanganya. Memberikan satu keranjang kecil kue bolu warna-warni.
Sarji tersenyum. “Terima kasih. Hmmm… kamu ingin melihat rumahku?”
“Tentu saja!” Dia bersorak.
“Tetapi satu hal yang harus kamu ingat, tetap jaga rahasiaku gadis kecil. Janji?”
Resa mengacungkan jari kelingkingnya tinggi-tinggi. “Aku janji!”
“Ayo, ikuti aku.”
Resa tak banyak bicara lagi. Dia paham, rasa penasarannya itu akan membuat Sarji tak menyukainya. Sesekali dia berlari kecil mendahului. Lalu berbalik arah dan tersenyum.
Saat tiba di dekat pohon besar, Resa menghentikan langkahnya. Dia mengamati pohon itu, tampak mengernyitkan dahi. Wajahnya berubah pucat. Ketakutan.
“Sarji, pohon besar ini pohon angker kan? Nenek pernah bercerita, tidak ada yang berani menebang pohon besar di tengah hutan. Katanya, akan menimbulkan malapetaka.”
Sarji tertawa. “Dan kamu percaya?”
Resa tampak mengangguk.
“Sebenarnya, aku yang membuat mitos itu. Setiap kali ada yang berusaha mendekati atau bahkan ingin menebang pohon ini, aku lakukan sesuatu yang menakuti mereka. Ya, aku tidak ingin pohon yang sudah berumur puluhan tahun ini ditebang. Tentang malapetaka itu benar adanya. Bukankah dengan habisnya pohon di hutan ditebang, termasuk pohon ini, dapat menyebabkan bencana. Banjir atau tanah longsor mungkin saja.”
“Kamu benar! Aku pernah belajar di sekolah.”
Rumah Sarji terletak jauh di dalam hutan yang sunyi. Hanya ada suara-suara satwa hutan yang bersahutan dan gemericik air mengalir di samping rumahnya. Rumahku terbuat dari kayu, dengan bentuk sederhana. Kakek membangun rumah ini dari kayu-kayu tua atau pohon yang telah tumbang. Beberapa bibit tanaman disemai di halaman rumah.
“Rumah yang luar biasa.”
“Terima kasih, Resa. Kamu adalah orang pertama yang singgah ke rumahku.”
“Bukankah orang-orang dapat dengan mudah menemukan rumahmu disini?”
“Belum pernah ada. Hanya aku yang tahu jalan menuju tempat ini. Lagipula, dengan mitos-mitos yang beredar, tidak ada yang berani untuk memasuki hutan sedalam ini.”
“Mengapa kamu memilih tinggal disini?”
“Awalnya bukan pilihan aku harus tinggal disini. Kakekku adalah warga Kampung Kumiko. Setelah dilahirkan, aku ditinggalkan oleh orang tuaku. Aku dibesarkan oleh Kakek. Nenek sudah meninggal sebelum kedua orang tuaku menikah.”
“Jika memang Kakekmu adalah warga asli Kumiko, mengapa tak satupun warga mengenalnya?”
Sarji menghela napas. Cerita kelam itu kembali terbesit di kepalanya.
Mampukah aku menceritakan kepadanya?
“Mengapa kamu diam saja?” Dia mengulangnya.
Tak apa, mungkin ini adalah salah satu cara agar kejadian itu tak terulang lagi.
“Tiga puluh tahun yang lalu, terjadi bencana alam yang sangat dasyat di Kampung Nigota, hingga menewaskan hampir seluruh warganya. Kamu tahu, di samping hutan ini dulu ada hutan di atas bukit. Hutan yang sangat lebat dengan berbagai satwa yang hidup di dalamnya. Hutan itu juga yang menjadi sumber kehidupan warga Kampung Kumiko. Sayangnya, karena ketamakan warga, mereka dengan ramai-ramai menghabiskan apa yang bisa mereka makan atau dijual. Lama kelamaan, bukit menjadi gundul dan kehilangan kegagahannya. Tidak disangka, malam hari saat hujan lebat datang, bukit itu longsor. Meluluhlantakan semuanya. Tak sedikit yang hanyut terbawa arus sungai. Saat itu, aku dan Kakekku lolos dari maut. Kakek memutuskan membawaku masuk ke dalam hutan. Tekadnya bulat. Dia ingin menjaga sisa hutan agar tak dihabiskan manusia-manusia yang tamak. Namun, sepuluh tahun selepas kejadian itu, Kakek meninggal dunia. Meninggalkan aku dan cita-citanya yang selalu aku pegang teguh…”
“Dan kamu tak ingin kejadian seperti itu terjadi lagi?”
“Benar. Jika hutan ini habis, bukan hanya Kampung Kumiko yang akan bernasib sama seperti Kampung Nigota, tetapi empat kampung di sekitar hutan pun akan terkena dampaknya.”
“Berarti kita harus mengingatkan mereka secepatnya!” Resa berdiri.
“Tak semudah itu Resa. Mereka tidak akan percaya tanpa bukti. Biarlah. Kita lakukan semampu kita. Sepertiku, yang hanya mampu mencegah orang-orang jahat membabat pohon dan menangkap satwa di hutan ini.”
“Tetapi Sarji dapat menjadi saksi.”
Sarji menggeleng. “Aku tidak bisa. Mungkin saja karena rupaku yang seperti ini, layaknya orang gila, tidak ada satupun yang akan mempercayaiku.”
“Apa salahnya mencoba?”
“Kamu masih terlalu kecil memahami hal seperti ini. Tentang orang-orang itu biar sementara aku yang mengurusnya. Sekarang pulanglah. Nenekmu pasti sedang mencarimu.”
Resa masih berdiri terpaku. Dia tak menyangka, ada rahasia dan cerita masa lalu yang tersimpan rapi di hutan ini. Mengenal Sarji bukan hanya tentang kisahnya sebagai Lelaki Hutan, tetapi juga keteguhannya memegang dan mewujudkan janji Kakek. Menjaga hutan. Menyelamatkan orang-orang. Semampunya. Salut!
“Hei!” Sarji berteriak, membuyarkan lamunan Resa.
“Aku ingin jadi sepertimu,” ungkap Resa.
“Lebih baik kamu belajar yang pandai. Raih banyak prestasi. Bercita-citalah untuk menjadi orang yang bisa membawa perubahan. Menyadarkan orang-orang tentang pentingnya hutan. Jadilah pengibar pergerakan yang menjaga kelestarian bumi, terutama kampung Kumiko. Dan Negara kita. Indonesia.” Sarji menimpali.
“Apa aku bisa? Aku masih sangat kecil.”
“Tentu saja. Mulailah dengan hal-hal yang kecil juga. Misalnya, menanam pohon atau bunga-bunga di rumah, sekolah atau tepian jalan. Ajak teman-teman resa, orang tua, guru… nenek Resa.”
“Pohon apa?”
“Kamu bisa ambil beberapa bibit pohon yang aku tanam itu,” sahut Sarji sambil menunjuk bibit pohon yang ditanamnya.
“Bolehkah?” mata Resa berbinar.
“Ya, ambillah. Pilih yang kamu suka!”
Resa mengangguk. Dengan suka cita, dipilihnya lima bibit tanaman milik Sarji.
“Terima kasih, Sarji,” seraya tersenyum.
“Sama-sama. Kamu harus janji kepadaku bahwa kamu akan merawat pohon itu hingga tumbuh besar ya.”
“Baik. Aku janji!” tukas Resa.
Hari beranjak sore. Resa bergegas pulang ke rumah nenek. Dia khawatir, nenek khawatir dan mencarinya. Benar saja, nenek sudah berada di jembatan bersama tiga orang lelaki. Kakek, Paman Tin dan Pak Kades. Mereka mencariku.
Setelah kemelut penangkapan para penyamun satwa dan penebang liar itu, Resa tak lagi dapat menemukan Sarji. Dia mencoba mencari ke rumah yang pernah Sarji tunjukkan. Hasilnya nihil. Tak ada bekas. Hanya puluhan bibit pohon yang siap tanam berjajar rapi di sana. Resa pun mengajak warga kampung Kumiko untuk menanam bibit pohon itu di tempat yang mulai tandus. Dia berpesan, selagi tak ada hujan, warga harus bergantian menyirami pohon-pohon itu. Lalu, tentang Sarji, lelaki hutan yang hilang bersama dibabatnya puluhan pohon. Kemanakah dia? Benarkah dia memang manusia? Atau justru roh yang sering dibicarakan warga? Entahlah. Semoga dia akan kembali. Seperti bibit pohon yang akan kembali menjadi pohon-pohon rindang dalam hutan.