Cinta Tanpa Suara

Tentang Cara Ibu Mengungkapkan Cinta

Ibu. Bunda. Umi. Amak. Mamak. Dan sebutan lainnya yang mungkin berbeda di setiap daerah. Tetapi satu hal yang pasti. Semua sebutan itu merujuk pada satu sosok luar biasa. Sosok perempuan yang hebat. Perempuan dengan pengorbanan yang tak akan pernah mampu terbalas. Kasih sayang yang tak pernah terhenti. Rasa cinta yang tak pernah terutarakan. Lewat suara selirih apapun itu. Cinta tanpa suara. Cintanya bukan untuk disombongkan. Semua tentang cara ibu mengungkapkan cinta.

Sejenak, coba renungkanlah. Jika cinta Ibu disampaikan dengan rangkaian kata, maka berapa banyak suara cinta yang akan kita dengar? Berapa juta kertas yang akan kita gunakan untuk menuliskan setiap kata cinta darinya? Ya, meskipun tanpa suara, cinta Ibu tetap senantiasa ada. Ibu mengungkapkan cinta lewat santapan nikmat yang selalu beliau sajikan di meja makan. Dengan kecupan manis sebelum tidur. Pelukan hangatnya. Tatapan teduhnya. Nasehat baiknya.

Apapun itu, Ibu tak pernah melupakan cinta dari setiap perlakuannya.

Cahaya yang Tiada Terduga

Kebahagian tak selalu muncul dari seberapa banyak harta yang kita miliki. Terkadang, harta yang melimpah justru menjadi sumber permasalahan rumit. Tetapi, memang tak bisa dipungkiri, banyak orang rakus dan gila harta. Mereka tak mau kalah memupuk kekayaannya. Rela melakukan apa saja, bahkan dengan cara yang tak semestinya. Ya, dalam pikirannya, harta adalah segalanya. Hingga hilang kepeduliannya, juga rasa belas kasihnya. Ketika harta itu lenyap, hancurlah kehidupannya. Semula bergelimangan harta dan serba mewah, harus pontang panting mencari cara bertahan hidup ke segala arah. Ada pula yang justru menyerah, terguncang hati, berimbas pula pada kejiwaannya. Ah, lagi-lagi karena cerita itu, seorang lelaki dibawa berkunjung ke tempat kerjaku.

Pagi itu, 7 hari sebelum lebaran tiba, aku menyempatkan diri berkeliling ke taman. Tentu saja, sebuah taman favoritku di samping rumah sakit ini. Disana, biasanya aku mengajak pasienku untuk bercengkerama dan menikmati udara segar. Sejenak, pikiranku mengangan jauh, kembali ke masa lima tahun yang lalu, saat pertama aku mengabdikan diri sebagai seorang perawat. Bangunan tua dihadapanku telah lama menjadi saksi bisu ceritaku. Ya, di depan bangunan itu pula, aku meyakinkan kedua orang tuaku tentang keyakinanku memilih pekerjaan ini. Tetapi waktu telah berlalu. Seperti warna cat dindingnya yang mulai memudar dan berlumut.

“Hayo, mengapa melamun, Fit?” Devi menepuk bahuku.”Daripada melamun, lebih baik ikut aku ambil uang di atm. Ayo!”

Belum sempat menjawab pertanyaannya, Devi sudah menggandeng tanganku sambil tersenyum. Mau tak mau, aku mengikuti tarikan tangannya itu.

Disana, aku memilih untuk menunggunya di luar. Aku memandang sekeliling mencari tempat teduh. Sebuah pohon besar yang masih rindang, tumbuh kokoh tak jauh dari tempatku berdiri. Aku pikir cukup melindungiku dari sengatan sinar matahari yang mulai terik. Terlebih, di hari puasa seperti ini. Rasanya kerongkongan lebih cepat kering disbanding hari biasanya.

Tiba-tiba, seseorang mengejutkan kami dari arah belakang.

“Maaf, Nak, boleh saya beristirahat sebentar disini?”

Aku tak segera menjawab. Suaranya tak dapat kutangkap dengan jelas di telinga.

Sesaat kemudian, terdengar suara derit sepeda cukup nyaring dari arah samping kanan tubuhku. Aku menoleh. Tampak seorang kakek tua telah berdiri di sampingku sambil menuntun sepeda.

“Ada apa, Kek?”

“Boleh saya beristirahat sebentar disini, Nak?” si Kakek mengulangi kalimatnya dengan lebih lantang. Beliau menggerakkan bibirnya perlahan. Mungkin, beliau tahu aku kesulitan mendengar suaranya.

“Tentu, Kek. Silakan,” sahutku. Singkat.

Beliau mendorong sepeda, lalu disandarkannya di pohon besar, tepat di sampingku.

“Sendirian saja?”

“Tidak Kek. Saya sedang menunggu teman. Dia ada disana,”aku menunjuk ATM.

Kakek itu mengangguk.

Diam.

Aku mengamati si Kakek dengan seksama. Ia mengenakan sepasang sandal jepit putih. Celana panjang yang sudah kumal menutup kakinya yang kurus kering. Si Kakek tampak rapi dengan baju lengan pendek berwarna merah marun. Bajunya dimasukkan ke dalam celana dengan sebuah sabuk hitam melingkar di pinggang. Di atas sakunya, tertera sebuah nama. Abas. Giginya yang sudah hilang beberapa menunjukkan bahwa usianya sudah tak muda lagi. Diperjelas dengan kerutan-kerutan wajahnya yang semakin tajam.

“Jika saya boleh tahu Kakek ini darimana?”

“Jauh, Nak. Saya suka berkelana. Berkeliling kota untuk menghibur diri, ditemani sepeda tua ini,”cerita Kakek.

Aku mengangguk.

Matanya melihat ke satu arah. Rumah sakit jiwa. Tanpa ada yang meminta, si Kakek bercerita.

“Dulu saya bercita-cita menjadi dokter. Tetapi, karena biaya yang mahal, saya putus sekolah. Setiap pelajaran Matematika dan Kimia, saya pasti dapat nilai jelek. Pernah sekali dapat nilai bagus, itupun hanya 5. Tetapi senang, gurunya memuji. Sekarang, anak-anak saya besar semua. Yang terakhir baru lulus SMA tahun kemarin. Anak kedua sudah bekerja dan yang sulung sudah punya anak.”

Si Kakek semakin bersemangat menceritakan kehidupannya. Sayangnya, suara si Kakek tidak jelas. Terdengar parau dan serak. Aku yang tak ingin membuatnya sedih, hanya menganggukkan kepala setiap kali Kakek bercerita.

“Saya sudah tua. Sudah miskin. Biarlah anak-anak dan cucu-cucu saya yang mencari pengalaman dan bangkit dari keterpurukan. Sekarang, saya suka menyendiri. Biasanya, di masjid. Bantu menyapu masjid, menggelar tikar. Nah, kamu yang masih muda harus rajin bekerja, terus menambah pengalaman. Dan yang paling penting, jangan sampai meninggalkan kewajiban kalian, terutama sholat,” Kakek itu dapat mengetahui bahwa aku seorang muslim dari kerudung yang aku kenakan.

Azan asar berkumandang dengan sangat jelas dari masjid di sebelah rumah sakit. Si Kakek beranjak dari tempat duduknya.

“Nak, sudah azan. Mari sholat asar dulu, bersama-sama dengan saya.”

Tersenyum. Itulah hal yang aku lakukan untuk membalas ajakan si Kakek. Terasa ada benda yang menghantamku. Akhir-akhir ini, aku memang sering meninggalkan kewajiban sholat lima waktu karena pekerjaan yang tak dapat aku tinggalkan. Bahkan disaat bulan Ramadhan ini, sholat masih saja aku abaikan. Demi pekerjaan. Malu.

“Ayo, nak. Nanti kita berjamaah!”

Merasa diabaikan, si Kakek segera pergi berlalu.

Ucapan-ucapan si Kakek terus tergiang di kepalaku. Bahkan, saat Devi mengajakku kembali bekerja, seolah tak aku hiraukan. Ada sesuatu yang terasa aneh ketika aku mengingatnya. Entah, aku sendiri pun tak tahu.

Pagi harinya, aku menghampiri Devi yang bertugas di bagian administrasi. Aku bermaksud mengambil beberapa data pasien. Sesaat kemudian, seorang ibu berjalan ke arahku.

“Saya ingin bertemu dengan Kakek Abas.”

Kakek Abas. Nama yang tak lagi asing, pikirku. Seperti pernah mengenal atau mendengar nama itu. Aku berusaha mengingatnya sambil membolak-balik daftar nama pasien. Sontak, aku pun tersentak. Hampir saja menjerit sekeras-sekerasnya. Namanya sama dengan nama yang tertulis di kantung saku kakek yang kemarin mengobrol denganku. Mungkinkah, si Kakek adalah pasienku? Ah, tak mungkin. Dari caranya berbicara saja, seperti orang normal pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa beliau sedang dalam kondisi sakit…jiwa.

Rasa penasaran dan tak percaya bergeliat dalam hati. Aku ingin memastikan kebenaran hal itu dengan membuntutinya. Ternyata memang benar. Orang yang dijenguk si ibu berwajah sama dengan yang aku lihat 18 jam yang lalu. Hanya saja pakaian yang dikenakan telah berganti pakaian pasien rumah sakit yang berwarna biru.

Aku berjalan gontai. Terbenam dalam pikiran yang kemelut.

Orang yang dianggap ‘gila’ itu, justru memberikan nasihat dengan kata-kata yang sangat manis dan bermakna untukku. Petuah yang teramat mengena, langsung kudengar dari mulutnya. Aku benar-benar telah mendapat pelajaran yang berharga dari seorang kakek tua yang ternyata gila. Mungkin inilah cara Allah menyadarkan sikapku yang lalai menjalankan perintahNya. Dengan cara yang terduga lewat pasienku sendiri dan di waktu yang penuh berkah, bulan Ramadhan.

Mengenalmu dalam Sepucuk Surat

Damar tersenyum seorang diri. Ia memandang seorang  perempuan berkerudung, yang tengah berdiri tidak jauh dari tempat duduknya. Dia Aisyah. Gadis cantik yang pernah diperkenalkan sahabatnya beberapa waktu lalu. Kulit wajahnya yang putih tampak sangat serasi dengan kerudung hijau yang ia kenakan. Dia tak sendirian. Seorang laki-laki bertubuh tegap sedang bersamanya. Aisyah menyebutnya Mas Iwan, Kakak kandungnya yang baru tiba dari Jakarta.

“Astaghfirullah, apa yang terjadi denganku? Aku harus menahan diri. Aku sedang berpuasa,” Damar segera memalingkan wajahnya.

Rupanya, sikap Damar yang memperhatikan Aisyah dalam waktu yang cukup lama itu, mencuri perhatian Mas Iwan. Lantas dia menghampiri Damar untuk mengajaknya berbicara. Sementara Aisyah sudah pulang terlebih dahulu. Pembicaraan semakin serius setelah Mas Iwan mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Damar terkejut.

“Kamu menyukai adikku?”

Damar hanya terdiam. Ada gejolak rasa yang melejit hebat di hatinya. Apa ini? Cintakah?

“Damar, katakanlah yang sejujurnya kamu rasakan sekarang. Aku tak akan marah kepadamu. Walaupun baru beberapa kali aku bertemu denganmu, aku percaya, kamu adalah orang yang baik. Pantas untuk menjadi imam bagi keluarga adikku kelak. Jika memang kamu yakin dengannya, aku bisa membantumu.”

Entah apa penyebabnya, tiba-tiba ada keyakinan yang timbul dalam benaknya bahwa Aisyah adalah perempuan yang tepat untuk menjadi pendampingnya. Meskipun tak langsung menatap matanya, benih-benih cinta itu mulai tumbuh sejak mereka pertama bertemu.

“Benarkah itu Mas? Aku tak ingin bermain-main saja dengan cinta yang kumiliki ini.”

“Aku paham. Besok kita bertemu di taman depan Pondok Pesantren Al Hidayah. Aku akan memberikanmu sesuatu.”

Damar mengangguk. Rasanya tak sabar menunggu hari esok tiba.

Keesokan harinya, Mas Iwan menepati janjinya. Dia datang sambil membawa sebuah amplop putih. Di bagian depan tertulis “Jika kamu yakin denganku, maka lakukanlah apa yang kutuliskan di dalamnya”. Demikianlah bunyi kalimat itu. Sebelum Mas Iwan pergi, dia sempat mengatakan suatu hal.

“Lakukan semuanya dengan hatimu. Cintai adikku karena Allah, bukan karena kamu ingin memenuhi nafsumu. Buatlah adikku yakin denganmu. Ingat dia sangat menyukai kejujuran dari seorang laki-laki,” katanya sambil tersenyum.

Sesampainya di rumah, Damar segera membuka surat itu. Isinya singkat. Hanya beberapa kalimat yang ditulis dengan tangan dengan sangat rapi.

Assalamu’alaikum wr. wb.

            Mas Damar, Aisyah sudah mendengar semua dari Mas Iwan. Namun, Aisyah membutuhkan waktu untuk mengenal Mas Damar lebih jauh lagi. Demikian pula dengan Mas Damar. Terlebih kita baru saja bertemu dalam dua kali kesempatan. Dalam ta’aruf ini, sebagai perkenalan, Aisyah ingin Mas Damar menuliskan semua hal tentang diri Mas Damar, lengkap dengan identitas, keluarga, kelebihan dan kekurangan yang ditulis dengan tangan. Selain itu, apabila Mas Iwan ingin menyampaikan hal yang lain, itu akan lebih baik. Aisyah juga akan membuatnya, Mas. Tiga hari kemudian, kita akan bertukar tulisan kita lewat kakakku. Semoga Mas Damar berkenan. Cukup sekian, terima kasih.

            Wassalamu’alaikum wr. wb.

Damar tersenyum sejenak. Perempuan yang unik, pikirnya. Dia semakin yakin bahwa Aisyah adalah perempuan yang pantas menjadi istrinya. Petunjuk dan jawaban atas doanya mulai diperlihatkan satu per satu. Dia pun akan berusaha terus memantaskan dirinya menjadi pasangan hidup untuk Aisyah.

Selepas sholat malam, Damar mengambil kertas dan pena. Ia ingin menuliskan dalam keadaan yang tenang. Semua hal yang yang dia tulis seperti keadaannya, tanpa dibuat-buat. Damar percaya, jika Aisyah memang jodohnya, maka ia akan menerima semua kekurangan yang dimilikinya.

Tiga hari kemudian, Damar bertemu dengan Mas Iwan di tempat yang sama seperti dulu. Ia menukarkan tulisan yang dibuat Aisyah dengan tulisan Damar.

“Tunggulah jawaban adikku, selalu berdoa kepada Allah. Jika benar dia jodohmu, maka kamu tidak akan dipersulit,” ungkapnya sambil tersenyum.

Damar meninggalkan taman dengan penuh harapan. Rasa penasaran menyeruak ingin segera membaca tulisan itu. Ia pun tak sabar menunggu hari dimana Aisyah akan memberikannya jawaban. Sebuah jawaban yang akan melegakan hatinya.

Rupanya Aisyah bimbang dalam menentukan keputusan. Sudah seminggu jawaban yang diharapkan tidak kunjung ada. Damar mulai cemas. Apakah keinginannya ditolak? Ia pun mengirimkan surat kepada Aisyah untuk mengurangi rasa penasarannya. Balasan surat diterimanya dalam selang waktu sehari.

Assalamu’alaikum wr. wb.

            Mas Damar, maaf karena Aisyah terlalu lama merenungkan semua ini hingga tanpa sadar sudah membuat Mas Damar menunggu terlalu lama. Aisyah tak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan, Mas. Dari petunjuk yang Allah berikan dan hasil pertimbangan dari orang tua Aisyah, akhirnya Aisyah mampu mengatasi kebimbangan ini. Aisyah menerima Mas Damar karena Allah. Semoga Mas Damar mencintai Aisyah karena Allah dan menerima Aisyah dengan apa adanya. Aisyah selalu berdoa, semoga keputusan ini adalah yang terbaik untuk kita.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Pada kalimat terakhir dari surat, Damar membacanya berulang, meyakinkan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Matanya berkaca-kaca sebab ia bahagia. Damar mengucap syukur atas apa yang diperolehnya kini. Kabar gembira segera disampaikan kepada ayah dan ibunya. Dengan bahagia mereka merestui Damar. Perkenalan yang singkat itu diakhiri dengan pernikahan yang sederhana.

Memang, dua insan yang berjodoh tak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk saling mencintai. Pertemuan yang singkat terkadang sudah cukup sebagai sebuah perkenalan. Sebagai seorang laki-laki bila sudah mampu, mengapa harus menunggu? Segera saja menikah. Demikian pula dengan perempuannya. Perkenalan yang terlalu lama tak selalu berakhir dengan kebersamaan. Karena mereka yang berjodoh dan memiliki cinta sejati yang kuat akan menerima dan melengkapi kekurangan pasangannya. Selain itu, cintailah pasanganmu karena Allah.

Menanti Hujan Reda

Sejak pukul setengah empat sore, aku termenung di tepian jendela, menatap rintikan hujan yang semakin deras. Tetesan airnya jatuh perlahan, menimpa atap-atap rumah bergenting tanah. Tanah mengepul seketika air menyentuhnya. Debu berhamburan, lalu larut bersama air hujan. Hujan semakin deras. Ah, memang datangnya hujan menjadi candu rinduku sejak lama. Pun dengan orang-orang tetangga rumah. Kemarau panjang rupanya benar-benar menyengsarakan kehidupan, menyisakan tanah-tanah berdebu dan tandus.

Aku mendesah perlahan. Rasa hati teramat gundah mengharap kedatangannya. Tak kunjung juga, aku melihat kedua bola mata di wajahnya yang kukira sudah bertambah dewasa itu. Kapan engkau akan datang? Janjimu, pukul 4 sore engkau tiba di rumah. Dan jika benar, pasti telah aku buatkan secangkir kopi panas lengkap dengan pisang goreng kesukaanmu. Tetapi, bukankah engkau pun tahu, satu jam telah berlalu. Apa yang terjadi denganmu hingga engkau terlambat untuk menemuiku?

Sesaat kemudian, samar-samar aku melihat bayangannya di antara sela-sela derasnya air hujan. Tampak olehku, dia menenteng satu koper besar dan tas gendong di bahu. Sementara, payung biru tua digenggam erat dengan tangan kanan. Aku bergegas meninggalkan segelas teh yang telah aku seruput di atas bingkai jendela. Kusambar payung besar di sudut ruang untuk pergi menjemputnya.

Hawa dingin menyusup masuk ke dalam rumah kayu seketika pintu rumah ini terbuka. Dari kejauhan, aku dapat menangkap sorot mata tajammu. Masih setampan dulu, pikirku. Sekilas engkau tersenyum ketika aku berlari ke arahmu.

“Biar aku yang membawanya,” kataku.

Tersenyum. “Engkau sudah lama menungguku?” bisiknya sambil menggigil kedinginan.

“Sudahlah. Tak apa, yang terpenting, engkau telah memenuhi janji untuk menemuiku. Mari kubantu membawa barangmu dan bergegas masuk.”

Dengan sigap, tangannya menepis tanganku yang mencoba meraih kopernya.

“Engkau perempuan. Tas ini tak seringan yang engkau bayangkan. Biar aku saja” Dia tersenyum.

Tanpa berpikir panjang, dia berjalan meninggalkan aku yang masih terganga.

“Mengapa tetap berdiri disana? Ayo, hujan semakin deras.”

Ditemani dengan segelas kopi hitam panas dan sepiring pisang goreng, kami duduk terpaku dalam diam. Senyum yang baru saja mengembang dari bibirnya itu, seolah ikut tersapu derasnya air hujan. Baik aku maupun dia, tak ada satupun yang mencoba memulai pembicaraaan terlebih dulu. Suasana berubah tegang. Satupun tak ada yang mampu menatap. Membisu. Terbenam dalam pikiran masing-masing.

“Makanlah selagi pisang goreng itu masih hangat. Atau engkau bisa menyeruput secangkir kopi buatanku. Setidaknya, kopi itu pun mampu mengurangi rasa dingin di tubuhmu.”

Aku mendongak. Sementara dia tetap tak bergeming. Dari tempatku duduk, dapat kulihat jelas tubuhnya gemetar. Dia kedinginan.

“Aku akan mengambilkanmu handuk. Tunggu sebentar.”

Tak disangka, dia justru memegang pergelangan tanganku.

“Duduklah. Aku tak akan lama berada disini.”

“Mengapa? Engkau tak suka bersama denganku?”

Dia menggeleng.

“Aku harus pergi.”

Diam. Kembali terdiam. Dan aku pun tak bertanya lebih lanjut. Ya, ucapan yang teramat pendek, namun sudah cukup membungkamku.

Entah. Aku pun tak dapat menerka sesuatu hal yang tengah dia pikirkan.

Sore itu, dia bukan lelaki periang dan romantis seperti yang aku kenal sebelumnya. Lelaki yang setiap hari tak pernah lupa menanyakan kabarku, lelaki yang teramat suka mengumbar kalimat romantisnya, kini berubah menjadi lelaki kaku dan bersikap dingin padaku. Sejauh aku mengenalnya, seberat apapun masalah yang dipikulnya, sebesar amarahnya, dia tak akan bertingkah seperti ini.

“Mengapa engkau diam? Tak sedikitpun engkau menunjukkan sikap bahwa kita berdua tengah berbicara. Engkau marah?”

“Engkau tak suka aku seperti ini?” nadanya meninggi.

“Ada apa? Mengapa engkau justru membentakku?” aku mengernyitkan dahi, kebingungan.

“Aku tak punya banyak waktu. Aku hanya ingin kita mengakhiri hubungan ini!”

Aku terbelalak. Tak percaya dengan apa yang diucapkannya.

“Putus? Apa ada yang salah denganku hingga engkau ingin mengakhirinya? Jika aku ada salah, engkau sampaikan saja. Biar aku perbaiki. Dan bukankah engkau mencintaiku? Engkau pun tahu bahwa aku teramat mencintaimu!” mataku mulai memerah, seiring dengan kemelut rasa yang tak karuan.

“Tak ada yang perlu aku jelaskan lagi. Kita berbeda Din! Dengan cinta itu pun tak akan cukup untuk mempersatukan kita!”

Tangannya bergerak cepat merogoh sesuatu dari balik tas gendongnya. Kotak yang terbungkus rapi dengan kertas kado warna jingga tanpa pita disodorkan kepadaku.

“Ambillah. Semoga ini mampu memperjelas maksudku. Aku harus segera pergi!”

Aku sudah tak mampu menahan air mata. Rasa pedih yang teramat sakit itu seolah menjadi lambang dalamnya dia menghunuskan belatinya ke hatiku. Semua rasa cinta yang aku miliki, seketika hancur berkeping-keping. Semua sirna, disaat hujan masih belum reda.

Dia berdiri dari tempat duduknya. Membetulkan posisi tas gendong di punggungnya.

“Tunggu!”

Aku mendongakkan kepala. Berdiri di hadapannya. Mencoba mencari arah tatapan kedua mata lelaki itu. Tanpa disangka, kulihat matanya memerah. Dia berusaha menahan tangis.

“Beri aku kejelasan tentang semua ini, Dim!” aku memukul keras bahu kanannya.

“Semua penjelasan ada di dalam kotak itu, Din. Buka saja!”

Dia merunduk. Tangan kanannya meraih ganggang kopernya.

“Biarkan aku pergi!”

Dalam isakan tangis itu, aku mencoba mencegahnya pergi.

“Tunggulah. Setidaknya sampai hujan ini reda.”

Aku melepas kedua tanganku dari bahunya. Mengusap air mata. Duduk dan diam.

Dia menuruti permintaanku tanpa bicara. Bahkan, dia tak menatapku sama sekali. Kurasa, hanya untuk menoleh pun dia enggan. Ya, sampai detik ini kami masih sama-sama diam. Isakan tangis pun seolah tak terdengar. Dibiaskan gemericik air hujan yang semakin deras.

Angin berhembus semakin dingin. Merebak masuk ke rumah. Berpadu dengan lara hati yang menyakitkan itu.

Kotak jingga darinya sengaja aku biarkan teronggok di meja. Di dekat segelas kopi yang belum diseruputnya sama sekali. Biarlah dia menjadi teman kopi yang menjadi saksi bisu kisah pahit ini. Aku masih enggan membukanya. Bagiku, akan lebih sakit jika nantinya aku tahu alasan keputusannya. Sementara, dia masih duduk di bangku hadapanku.

Ah, aku menghela napas yang terasa makin sesak.

“Aku pergi sekarang saja. Lupakan aku. Cintailah lelaki lain yang tulus mencintaimu juga. Jangan berharap kepadaku dan jangan pernah menemuiku lagi!”

Dia bangkit. Menenteng kopernya. Melangkah pergi meninggalkan aku yang masih terisak tanpa menoleh sedetikpun.

“Pergilah!”

Dengan tegas, aku membentak lelaki itu. Semua rasa marah yang sedari tadi aku tahan, aku tumpahkan kepadanya. Pergi. Biar dia pergi sesuka hatinya. Rasa sakit yang baru saja dia berikan menjadi pemicu kebencianku kepadanya. Mengapa harus aku? Jika memang selama ini dia tak mencintaiku, maka seharusnya aku tak dipertemukan dengannya. Dan dia tak perlu memperlakukanku semanis dulu. Apa salah bila pada akhirnya aku mencintainya setulus hati?

Aku pikir, aku adalah perempuan bodoh yang dengan mudahnya mencintai seseorang. Perempuan yang seakan gampang terbujuk rayuan manis lelaki. Dia yang datang dan mengenalkan cinta kepada perempuan lugu sepertiku. Lantas, dia pula yang mengakhiri semuanya. Mengkandaskan semua perasaan cinta yang telah merekah di hati.

“Sudahlah, Din. Tak perlu membuang air mata untuk lelaki seperti dia,” suara Ibu memecah keheningan.

Ibu berjalan menghampiri. Duduk merapat di sampingku. Tangannya merangkul kedua bahu. Aku bersandar pada tubuhnya yang penuh kehangatan. Ibu. Dan mungkin hanya Ibu yang mengerti keadaanku sekarang. Hanya Ibu pula yang mengizinkan aku menjalin hubungan dengannya. Bagaimana dengan Ayah? Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor yang menyita sebagian besar waktunya. Walaupun, beliau tak pernah lupa untuk sesekali menanyakan perkembangan sekolahku atau menyiapkan waktu untuk berlibur bersama.

“Dina, berhentilah menangis. Menangis tak akan menyelesaikan masalahmu. Jika memang lelaki itu datang kepadamu karena cinta, maka dia tak akan meninggalkanmu seperti ini. Sedikitpun, dia tak akan membuatmu menangis. Engkau tak perlu risau disakiti atau diabaikan oleh lelaki yang hanya mengumbar rayuannya. Sudahlah. Tak ada gunanya menangis, Din. Engkau harus buktikan, bahwa engkau adalah perempuan yang tegar. Jadilah wanita yang sholehah, pantaskanlah dirimu. Engkau masih ingat bukan bahwa jodoh, maut, dan rezeki itu Allah telah mengaturnya. Ibu yakin, suatu saat akan ada lelaki yang dengan serius mencintaimu, lelaki yang akan memperjuangkanmu dan dengan keseriusannya itu, dia akan berani melamarmu,” kata Ibu dengan suara lembut.

Ada kehangatan dan kepercayaan diri yang menyeruak setiap sisi tubuh ini. Aku harus bangkit. Aku harus menjadi perempuan yang kuat seperti kata Ibu.Tanpa sadar, aku berhenti menangis. Mendekap dan menenggelamkan separuh tubuhku ke dalam pelukan hangatnya.

Kini, ingatan itu kembali, sepuluh tahun selepas kejadian menyakitkan itu. Ketika senja yang sama tiba, aku memberanikan diri untuk membuka kotak jingga yang aku simpan di laci meja kamar. Aku menghela napas. Menenangkan dan memberanikan diri untuk membukanya.

Sebuah cincin permata dan secarik kertas. Aku mengernyitkan dahi. Seingatku, seseorang memiliki cincin permata serupa dengan cincin ini. Siapa? Hingga aku pun tersadar, bahwa cincin itu sama seperti cincin yang disimpan di kotak hitam milik suamiku. Mungkinkah?

Aku tak percaya. Lelaki yang menjadi suamiku adalah sabahat lelaki yang pernah menanamkan rasa sakit di akhir senja sepuluh tahun yang lalu.

… Dari hati ini, aku tak pernah yakin bahwa kita akan mampu untuk bersama. Kita sudah berbeda, Dina. Meskipun sekeras apapun perjuangan kita untuk bersatu, namun, semua tak akan berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kita memiliki keyakinan kuat yang berbeda, Din. Merubahnya akan menjadi hal tersulit bagiku. Demikian halnya denganmu.

Din, aku bukanlah lelaki yang tepat untukmu. Aku memilih pergi dan melepasmu, bahkan hingga membuatmu menangis. Percayalah. Suatu waktu engkau akan bertemu dengan lelaki yang pantas mendampingimu, yang sejalan dengan pemikiranmu. Jika pilihanku tepat, maka engkau akan menemukan pasangan dari cincin yang aku berikan kepadamu. Aku harap, engkau akan bahagia dengannya…

Bahuku berguncang. Aku menangis lagi. Entah aku harus bahagia atau sedih dengan semua ini. Sebuah skenario yang teramat rapi dan tak pernah aku duga sebelumnya.

Kini, aku telah bersanding dengan lelaki yang dipertemukan dari pilihan lelaki yang pernah mencintai sekaligus menyakitiku. Lelaki pilihannya benar-benar membuatku lupa akan rasa sakit yang pernah menyiksaku beberapa tahun lalu.  Dan di ujung senja ini, semuanya menjadi lebih indah. Satu pintaku, aku harap engkau pun bahagia dengan perempuan dari tulang rusukmu. Meskipun tak bisa kupungkiri, rasa sakit itu masih tetap sama, yang akan terasa perih saat mengenangmu.

H.I.L.A.N.G

Bukankah semestinya dia menjadi bagian terpenting dari kehidupanmu?
Atau hanya sebagai sosok tanpa daya yang dapat diperlakukan sesukanya?
Coba tengoklah saat yang menjadi hak dia kamu rampas! Rasakanlah ketika dia tertatih-tatih menjagamu, dengan sisa-sisa tubuh yang perlahan kamu hancurkan!
Tetapi apa balasmu? Bahkan kamu katakan, seolah dia sumber dari setiap kesakitanmu!
Hei, renungkanlah!

Aku hanyalah separuh dari kisahnya. Melihat tertawa kejam orang-orang biadab yang selalu merenggut kebahagiannya. Tangan-tangan keji yang tak pernah mau mengembalikan senyumannya. Sedikitpun. Walaupun dengan cara yang sederhana. Ya, sederhana saja. Tukar sesuatu yang mereka ambil. Tak harus sama, tetapi cukuplah bagi dia untuk tetap menjaga keberlangsungannya. Agar tetap gagah menjaga hembusan napasmu.

Bagaimana dengan dia?

Lihat, dia tak pernah langsung marah kepadamu. Meskipun deraan rasa sakit menimpanya.

Ah, aku tak habis pikir pada tingkah laku orang-orang itu. Tentu hanya untuk kebahagiaannya sesaat. Sudahlah. Bukankah mereka pun mengerti, bahwa sikapnya yang akan membinasakan mereka kelak?

Diantara pohon berakar kuat dan berdaun lebat itu, seorang lelaki tampak menggerutu. Ya, dia, si Lelaki Hutan. Rupanya dia tak menyukai ketika lamunannya diganggu. Suara tangis yang terdengar nyaring, menggema di dalam hutan yang sunyi. Siapa gerangan? Ada-ada saja. Dengan gesit, dia mendatangi sumber tangisan.

“Mengapa menangis?” Tanyanya sinis.

Gadis itu tak menjawab. Justru isakan tangisnya semakin keras saja. Dia menatap Lelaki Hutan dengan tajam, penuh selidik. Antara bingung dan takut.

“Oh tenang, aku tidak akan menyakitimu.”

“Aku tersesat.” Jawabnya lirih.

Sudah sekian puluh orang yang masuk ke dalam hutan ini akan tersesat. Sebagian mencoba mencari jalan pulang. Sisanya menunggu pencari kayu datang dan meminta pertolongan. Hal yang wajar ada orang tersesat di hutan ini. Tentu bukan warga asli Kampung Kumiko, desa kecil di seberang hutan.

“Ayo ikut aku. Aku antar kamu keluar dari sini!”

Gadis itu berdiri, berlari dan mengikuti langkah lelaki hutan.

“Kamu siapa?” Tanya dia.

Si lelaki diam tak bergeming. Seolah tak ada seorangpun yang mengajaknya berbicara.

“Mengapa diam saja? Namaku Resa.”

Ah, cerewet sekali gadis ini, pikirnya.

“Hei!” Dia berlari ke hadapan si lelaki. Berhenti. Dan mengangkat kedua tangannya sejajar bahu.

“Kamu berisik sekali! Lagipula kamu tidak perlu mengenalku. Cukup tahu saja. Dan jaga rahasia.”

“Mengapa seperti itu?”

“Sudahlah. Kamu tidak perlu tahu alasannya.”

Dia cemberut. Wajahnya yang bulat, tampak sangat lucu. Tanpa sadar si lelaki tertawa.

“Kamu lucu.” Sambil menahan tawa. Lalu mendesah perlahan.

“Kamu dari kota ya? Kamu tidak takut padaku? Bajuku lusuh, rambutku panjang dan wajahku berjenggot. ”

Resa menggeleng. “Aku dari kota, disini aku tinggal di rumah nenek. Dan mengapa aku harus takut padamu? Kamu manusia sepertiku kan? Kamu datang ke hutan ini untuk mencari kayu? Benar kan ramalanku?”

“Aku bukan manusia.”

Wajahnya terhenyak. Tentu saja, pasti dia terkejut dengan pengakuannya.

“Ah, tak mungkin. Kamu berbohong padaku kan?”

Si lelaki tertawa cekikikan. “Kamu gadis yang pintar. Aku memang manusia. Sebut aku Lelaki Hutan. Sejak lahir aku tinggal di tengah hutan ini. Aku adalah separuh dari kehidupan hutan ini. Ya, setiap saat aku harus menjaga hutan dari perilaku para penyamun satwa atau penebang kayu liar yang semena-mena. Meskipun aku kadang kecolongan juga. Aku sendiri. Aku pun bukan makhluk ghaib yang bisa berpindah tempat sesuka hati dan secepat kilat.”

Dia berhenti.

“Ada apa?”

“Sungguh? Lelaki hutan? Kamu tinggal di hutan sendirian?”

“Entah. Aku lebih senang disebut demikian. Meskipun, namaku sebenarnya adalah Sarji. Dan aku tinggal sendirian di hutan.”

“Nama yang bagus. Boleh aku memanggilmu Sarji?”

“Boleh.”

“Kamu tak pernah keluar dari hutan?”

“Sering. Pada malam hari. Hanya untuk sekedar pergi melihat perubahan yang terjadi. Walaupun aku tinggal di hutan, bukan berarti aku buta dunia luar. Ya, aku belajar dengan sembunyi-sembunyi. Orang-orang memang tak pernah tahu, bahwa ada aku yang tinggal disini.”

“Bagaimana kamu makan? Dan kamu tak punya saudara? Atau keinginan untuk tinggal di desa atau kota? Bukan di hutan ini.”

“Makan? Haha.. Kamu tidak lihat di hutan banyak sekali sumber makananku. Hutan memberikan segalanya. Air dan makanan. Bahkan udara yang segar sekalipun. Jika ditanya saudara, kata Kakekku, aku punya. Jauh di kota. Tetapi lebih nyaman berada disini. Menghabiskan sisa hidupku untuk menjaga keutuhan hutan ini.”

Resa termenung sejenak. “Dimana rumahmu ? Boleh aku datang berkunjung?”

Sarji terdiam. Dia tidak ingin rahasianya diketahui oleh siapapun. Termasuk Resa. Walaupun sepertinya dia adalah gadis yang baik. Tidak ada maksud jahat kepadanya. Sampai detik ini.

Tepat di ujung hutan, Sarji mengalihkan pembicaraan. “Lihat, di depan ada jalan setapak. Ikuti jalan setapak itu. Setelah menemukan jembatan, belok kanan melewati jembatan. Kita berpisah sampai disini. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia tentang pertemuan ini dan tentangku.”

Resa tersenyum. Dengan suka cita, dia berlari ke jalan setapak.

“Aku akan datang lagi besok!” Dia berseru.

Ah, yang benar saja.

Pagi-pagi, saat matahari mulai menyingsing di ujung barat. Resa sudah tiba di tempat dia tersesat.

“Benar-benar gadis yang keras kepala!” celetuk Sarji dari atas pepohonan.

“Turunlah. Aku datang membawa makanan untukmu. Aku yang membuatnya.”

Resa mengulurkan tanganya. Memberikan satu keranjang kecil kue bolu warna-warni.

Sarji tersenyum. “Terima kasih. Hmmm… kamu ingin melihat rumahku?”

“Tentu saja!” Dia bersorak.

“Tetapi satu hal yang harus kamu ingat, tetap jaga rahasiaku gadis kecil. Janji?”

Resa mengacungkan jari kelingkingnya tinggi-tinggi. “Aku janji!”

“Ayo, ikuti aku.”

Resa tak banyak bicara lagi. Dia paham, rasa penasarannya itu akan membuat Sarji tak menyukainya. Sesekali dia berlari kecil mendahului. Lalu berbalik arah dan tersenyum.

Saat tiba di dekat pohon besar, Resa menghentikan langkahnya. Dia mengamati pohon itu, tampak mengernyitkan dahi. Wajahnya berubah pucat. Ketakutan.

“Sarji, pohon besar ini pohon angker kan? Nenek pernah bercerita, tidak ada yang berani menebang pohon besar di tengah hutan. Katanya, akan menimbulkan malapetaka.”

Sarji tertawa. “Dan kamu percaya?”

Resa tampak mengangguk.

“Sebenarnya, aku yang membuat mitos itu. Setiap kali ada yang berusaha mendekati atau bahkan ingin menebang pohon ini, aku lakukan sesuatu yang menakuti mereka. Ya, aku tidak ingin pohon yang sudah berumur puluhan tahun ini ditebang. Tentang malapetaka itu benar adanya. Bukankah dengan habisnya pohon di hutan ditebang, termasuk pohon ini, dapat menyebabkan bencana. Banjir atau tanah longsor mungkin saja.”

“Kamu benar! Aku pernah belajar di sekolah.”

Rumah Sarji terletak jauh di dalam hutan yang sunyi. Hanya ada suara-suara satwa hutan yang bersahutan dan gemericik air mengalir di samping rumahnya. Rumahku terbuat dari kayu, dengan bentuk sederhana. Kakek membangun rumah ini dari kayu-kayu tua atau pohon yang telah tumbang. Beberapa bibit tanaman disemai di halaman rumah.

“Rumah yang luar biasa.”

“Terima kasih, Resa. Kamu adalah orang pertama yang singgah ke rumahku.”

“Bukankah orang-orang dapat dengan mudah menemukan rumahmu disini?”

“Belum pernah ada. Hanya aku yang tahu jalan menuju tempat ini. Lagipula, dengan mitos-mitos yang beredar, tidak ada yang berani untuk memasuki hutan sedalam ini.”

“Mengapa kamu memilih tinggal disini?”

“Awalnya bukan pilihan aku harus tinggal disini. Kakekku adalah warga Kampung Kumiko. Setelah dilahirkan, aku ditinggalkan oleh orang tuaku. Aku dibesarkan oleh Kakek. Nenek sudah meninggal sebelum kedua orang tuaku menikah.”

“Jika memang Kakekmu adalah warga asli Kumiko, mengapa tak satupun warga mengenalnya?”

Sarji menghela napas. Cerita kelam itu kembali terbesit di kepalanya.

Mampukah aku menceritakan kepadanya?

“Mengapa kamu diam saja?” Dia mengulangnya.

Tak apa, mungkin ini adalah salah satu cara agar kejadian itu tak terulang lagi.

“Tiga puluh tahun yang lalu, terjadi bencana alam yang sangat dasyat di Kampung Nigota, hingga menewaskan hampir seluruh warganya. Kamu tahu, di samping hutan ini dulu ada hutan di atas bukit. Hutan yang sangat lebat dengan berbagai satwa yang hidup di dalamnya. Hutan itu juga yang menjadi sumber kehidupan warga Kampung Kumiko. Sayangnya, karena ketamakan warga, mereka dengan ramai-ramai menghabiskan apa yang bisa mereka makan atau dijual. Lama kelamaan, bukit menjadi gundul dan kehilangan kegagahannya. Tidak disangka, malam hari saat hujan lebat datang, bukit itu longsor. Meluluhlantakan semuanya. Tak sedikit yang hanyut terbawa arus sungai. Saat itu, aku dan Kakekku lolos dari maut. Kakek memutuskan membawaku masuk ke dalam hutan. Tekadnya bulat. Dia ingin menjaga sisa hutan agar tak dihabiskan manusia-manusia yang tamak. Namun, sepuluh tahun selepas kejadian itu, Kakek meninggal dunia. Meninggalkan aku dan cita-citanya yang selalu aku pegang teguh…”

“Dan kamu tak ingin kejadian seperti itu terjadi lagi?”

“Benar. Jika hutan ini habis, bukan hanya Kampung Kumiko yang akan bernasib sama seperti Kampung Nigota, tetapi empat kampung di sekitar hutan pun akan terkena dampaknya.”

“Berarti kita harus mengingatkan mereka secepatnya!” Resa berdiri.

“Tak semudah itu Resa. Mereka tidak akan percaya tanpa bukti. Biarlah. Kita lakukan semampu kita. Sepertiku, yang hanya mampu mencegah orang-orang jahat membabat pohon dan menangkap satwa di hutan ini.”

“Tetapi Sarji dapat menjadi saksi.”

Sarji menggeleng. “Aku tidak bisa. Mungkin saja karena rupaku yang seperti ini, layaknya orang gila, tidak ada satupun yang akan mempercayaiku.”

“Apa salahnya mencoba?”

“Kamu masih terlalu kecil memahami hal seperti ini. Tentang orang-orang itu biar sementara aku yang mengurusnya. Sekarang pulanglah. Nenekmu pasti sedang mencarimu.”

Resa masih berdiri terpaku. Dia tak menyangka, ada rahasia dan cerita masa lalu yang tersimpan rapi di hutan ini. Mengenal Sarji bukan hanya tentang kisahnya sebagai Lelaki Hutan, tetapi juga keteguhannya memegang dan mewujudkan janji Kakek. Menjaga hutan. Menyelamatkan orang-orang. Semampunya. Salut!

“Hei!” Sarji berteriak, membuyarkan lamunan Resa.

“Aku ingin jadi sepertimu,” ungkap Resa.

“Lebih baik kamu belajar yang pandai. Raih banyak prestasi. Bercita-citalah untuk menjadi orang yang bisa membawa perubahan. Menyadarkan orang-orang tentang pentingnya hutan. Jadilah pengibar pergerakan yang menjaga kelestarian bumi, terutama kampung Kumiko. Dan Negara kita. Indonesia.” Sarji menimpali.

“Apa aku bisa? Aku masih sangat kecil.”

“Tentu saja. Mulailah dengan hal-hal yang kecil juga. Misalnya, menanam pohon atau bunga-bunga di rumah, sekolah atau tepian jalan. Ajak teman-teman resa, orang tua, guru… nenek Resa.”

“Pohon apa?”

“Kamu bisa ambil beberapa bibit pohon yang aku tanam itu,” sahut Sarji sambil menunjuk bibit pohon yang ditanamnya.

“Bolehkah?” mata Resa berbinar.

“Ya, ambillah. Pilih yang kamu suka!”

Resa mengangguk. Dengan suka cita, dipilihnya lima bibit tanaman milik Sarji.

“Terima kasih, Sarji,” seraya tersenyum.

“Sama-sama. Kamu harus janji kepadaku bahwa kamu akan merawat pohon itu hingga tumbuh besar ya.”

“Baik. Aku janji!” tukas Resa.

Hari beranjak sore. Resa bergegas pulang ke rumah nenek. Dia khawatir, nenek khawatir dan mencarinya. Benar saja, nenek sudah berada di jembatan bersama tiga orang lelaki. Kakek, Paman Tin dan Pak Kades. Mereka mencariku.

Setelah kemelut penangkapan para penyamun satwa dan penebang liar itu, Resa tak lagi dapat menemukan Sarji. Dia mencoba mencari ke rumah yang pernah Sarji tunjukkan. Hasilnya nihil. Tak ada bekas. Hanya puluhan bibit pohon yang siap tanam berjajar rapi di sana. Resa pun mengajak warga kampung Kumiko untuk menanam bibit pohon itu di tempat yang mulai tandus. Dia berpesan, selagi tak ada hujan, warga harus bergantian menyirami pohon-pohon itu. Lalu, tentang Sarji, lelaki hutan yang hilang bersama dibabatnya puluhan pohon. Kemanakah dia? Benarkah dia memang manusia? Atau justru roh yang sering dibicarakan warga? Entahlah. Semoga dia akan kembali. Seperti bibit pohon yang akan kembali menjadi pohon-pohon rindang dalam hutan.