Kebahagian tak selalu muncul dari seberapa banyak harta yang kita miliki. Terkadang, harta yang melimpah justru menjadi sumber permasalahan rumit. Tetapi, memang tak bisa dipungkiri, banyak orang rakus dan gila harta. Mereka tak mau kalah memupuk kekayaannya. Rela melakukan apa saja, bahkan dengan cara yang tak semestinya. Ya, dalam pikirannya, harta adalah segalanya. Hingga hilang kepeduliannya, juga rasa belas kasihnya. Ketika harta itu lenyap, hancurlah kehidupannya. Semula bergelimangan harta dan serba mewah, harus pontang panting mencari cara bertahan hidup ke segala arah. Ada pula yang justru menyerah, terguncang hati, berimbas pula pada kejiwaannya. Ah, lagi-lagi karena cerita itu, seorang lelaki dibawa berkunjung ke tempat kerjaku.
Pagi itu, 7 hari sebelum lebaran tiba, aku menyempatkan diri berkeliling ke taman. Tentu saja, sebuah taman favoritku di samping rumah sakit ini. Disana, biasanya aku mengajak pasienku untuk bercengkerama dan menikmati udara segar. Sejenak, pikiranku mengangan jauh, kembali ke masa lima tahun yang lalu, saat pertama aku mengabdikan diri sebagai seorang perawat. Bangunan tua dihadapanku telah lama menjadi saksi bisu ceritaku. Ya, di depan bangunan itu pula, aku meyakinkan kedua orang tuaku tentang keyakinanku memilih pekerjaan ini. Tetapi waktu telah berlalu. Seperti warna cat dindingnya yang mulai memudar dan berlumut.
“Hayo, mengapa melamun, Fit?” Devi menepuk bahuku.”Daripada melamun, lebih baik ikut aku ambil uang di atm. Ayo!”
Belum sempat menjawab pertanyaannya, Devi sudah menggandeng tanganku sambil tersenyum. Mau tak mau, aku mengikuti tarikan tangannya itu.
Disana, aku memilih untuk menunggunya di luar. Aku memandang sekeliling mencari tempat teduh. Sebuah pohon besar yang masih rindang, tumbuh kokoh tak jauh dari tempatku berdiri. Aku pikir cukup melindungiku dari sengatan sinar matahari yang mulai terik. Terlebih, di hari puasa seperti ini. Rasanya kerongkongan lebih cepat kering disbanding hari biasanya.
Tiba-tiba, seseorang mengejutkan kami dari arah belakang.
“Maaf, Nak, boleh saya beristirahat sebentar disini?”
Aku tak segera menjawab. Suaranya tak dapat kutangkap dengan jelas di telinga.
Sesaat kemudian, terdengar suara derit sepeda cukup nyaring dari arah samping kanan tubuhku. Aku menoleh. Tampak seorang kakek tua telah berdiri di sampingku sambil menuntun sepeda.
“Ada apa, Kek?”
“Boleh saya beristirahat sebentar disini, Nak?” si Kakek mengulangi kalimatnya dengan lebih lantang. Beliau menggerakkan bibirnya perlahan. Mungkin, beliau tahu aku kesulitan mendengar suaranya.
“Tentu, Kek. Silakan,” sahutku. Singkat.
Beliau mendorong sepeda, lalu disandarkannya di pohon besar, tepat di sampingku.
“Sendirian saja?”
“Tidak Kek. Saya sedang menunggu teman. Dia ada disana,”aku menunjuk ATM.
Kakek itu mengangguk.
Diam.
Aku mengamati si Kakek dengan seksama. Ia mengenakan sepasang sandal jepit putih. Celana panjang yang sudah kumal menutup kakinya yang kurus kering. Si Kakek tampak rapi dengan baju lengan pendek berwarna merah marun. Bajunya dimasukkan ke dalam celana dengan sebuah sabuk hitam melingkar di pinggang. Di atas sakunya, tertera sebuah nama. Abas. Giginya yang sudah hilang beberapa menunjukkan bahwa usianya sudah tak muda lagi. Diperjelas dengan kerutan-kerutan wajahnya yang semakin tajam.
“Jika saya boleh tahu Kakek ini darimana?”
“Jauh, Nak. Saya suka berkelana. Berkeliling kota untuk menghibur diri, ditemani sepeda tua ini,”cerita Kakek.
Aku mengangguk.
Matanya melihat ke satu arah. Rumah sakit jiwa. Tanpa ada yang meminta, si Kakek bercerita.
“Dulu saya bercita-cita menjadi dokter. Tetapi, karena biaya yang mahal, saya putus sekolah. Setiap pelajaran Matematika dan Kimia, saya pasti dapat nilai jelek. Pernah sekali dapat nilai bagus, itupun hanya 5. Tetapi senang, gurunya memuji. Sekarang, anak-anak saya besar semua. Yang terakhir baru lulus SMA tahun kemarin. Anak kedua sudah bekerja dan yang sulung sudah punya anak.”
Si Kakek semakin bersemangat menceritakan kehidupannya. Sayangnya, suara si Kakek tidak jelas. Terdengar parau dan serak. Aku yang tak ingin membuatnya sedih, hanya menganggukkan kepala setiap kali Kakek bercerita.
“Saya sudah tua. Sudah miskin. Biarlah anak-anak dan cucu-cucu saya yang mencari pengalaman dan bangkit dari keterpurukan. Sekarang, saya suka menyendiri. Biasanya, di masjid. Bantu menyapu masjid, menggelar tikar. Nah, kamu yang masih muda harus rajin bekerja, terus menambah pengalaman. Dan yang paling penting, jangan sampai meninggalkan kewajiban kalian, terutama sholat,” Kakek itu dapat mengetahui bahwa aku seorang muslim dari kerudung yang aku kenakan.
Azan asar berkumandang dengan sangat jelas dari masjid di sebelah rumah sakit. Si Kakek beranjak dari tempat duduknya.
“Nak, sudah azan. Mari sholat asar dulu, bersama-sama dengan saya.”
Tersenyum. Itulah hal yang aku lakukan untuk membalas ajakan si Kakek. Terasa ada benda yang menghantamku. Akhir-akhir ini, aku memang sering meninggalkan kewajiban sholat lima waktu karena pekerjaan yang tak dapat aku tinggalkan. Bahkan disaat bulan Ramadhan ini, sholat masih saja aku abaikan. Demi pekerjaan. Malu.
“Ayo, nak. Nanti kita berjamaah!”
Merasa diabaikan, si Kakek segera pergi berlalu.
Ucapan-ucapan si Kakek terus tergiang di kepalaku. Bahkan, saat Devi mengajakku kembali bekerja, seolah tak aku hiraukan. Ada sesuatu yang terasa aneh ketika aku mengingatnya. Entah, aku sendiri pun tak tahu.
Pagi harinya, aku menghampiri Devi yang bertugas di bagian administrasi. Aku bermaksud mengambil beberapa data pasien. Sesaat kemudian, seorang ibu berjalan ke arahku.
“Saya ingin bertemu dengan Kakek Abas.”
Kakek Abas. Nama yang tak lagi asing, pikirku. Seperti pernah mengenal atau mendengar nama itu. Aku berusaha mengingatnya sambil membolak-balik daftar nama pasien. Sontak, aku pun tersentak. Hampir saja menjerit sekeras-sekerasnya. Namanya sama dengan nama yang tertulis di kantung saku kakek yang kemarin mengobrol denganku. Mungkinkah, si Kakek adalah pasienku? Ah, tak mungkin. Dari caranya berbicara saja, seperti orang normal pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa beliau sedang dalam kondisi sakit…jiwa.
Rasa penasaran dan tak percaya bergeliat dalam hati. Aku ingin memastikan kebenaran hal itu dengan membuntutinya. Ternyata memang benar. Orang yang dijenguk si ibu berwajah sama dengan yang aku lihat 18 jam yang lalu. Hanya saja pakaian yang dikenakan telah berganti pakaian pasien rumah sakit yang berwarna biru.
Aku berjalan gontai. Terbenam dalam pikiran yang kemelut.
Orang yang dianggap ‘gila’ itu, justru memberikan nasihat dengan kata-kata yang sangat manis dan bermakna untukku. Petuah yang teramat mengena, langsung kudengar dari mulutnya. Aku benar-benar telah mendapat pelajaran yang berharga dari seorang kakek tua yang ternyata gila. Mungkin inilah cara Allah menyadarkan sikapku yang lalai menjalankan perintahNya. Dengan cara yang terduga lewat pasienku sendiri dan di waktu yang penuh berkah, bulan Ramadhan.