Senja Tanpa Warna

Dari gumam bibir perempuan di ujung senja itu
Tak satupun jemari mampu mengira
Tiada sanggup akal yang tepat menerka
Hanya tapak kakimu yang bersaksi bisu

Setangkai mawar yang teronggok di jendela kamarmu
Tersisih pita hitam perangkai kembang kamboja
Senyum malumu membayang sebatas angan
Rengek manja itu berbias sendu serak tangisnya
Dan lekuk wajahmu terbenam dalam reruntuhan malam

Tiada kata manis pelepas kehilanganmu
Tersisa iringan doa dalam diam tak berucap
Dari wajar nanar terbelenggu ratap pilu
Mimpi tentangmu tersimpan tanpa harap

Rasa hati tergores dalam membekas
Kekal menyatu bersama candu rindu
Mendekap samar bayangmu, seraya bergumam
Aku akan tetap mencintaimu
Di ujung senja tanpa warna

Bayang Kebajikan

Dia kembali
Separuh waktunya habis tanpa arti
Dahi berkernyit, mata terpicing
Melucuti bayang semu tiga jengkal di hadapnya
Guratan murung menebal di raut muka
Gundah menggeliat
Menyamarkan rona ketenangan
Gemetar menggerogoti
Amarah menaungi
Dia masih saja, berdiri disana
Hingga terjaga derit pintu kayu
Dan lenyaplah tubuh itu disana
Tersisa cermin dengan bingkai kayu tua
Meski, jejal bayangnya tak henti menyeruak
Ingin tubuh hendak bergerak
Lemah tiada berdaya
Lunglai tanpa rasa
Bungkam mulut tak bersuara
Terpelintir tangan, terikat kuat
Dia kembali tak lagi dalam bayang maya
Meninggalkan sehelai selendang hitam
Tersimpan kertas usang
Pakailah, niscaya tenang hatimu
Keras gertaknya, merinding rasanya
Dan aku kembali terjaga
Ternganga

Tiga Cahaya

Dalam remang cahaya..
Sayup terdengar suara riuh canda tawa
Tiga bocah suka cita berbagi cerita
Duduk bersila, di sudut taman kota
Belasan tahun mungkin saja usianya
Berpakaian sederhana, dengan kopiah di atas kepala
Aku berpaling, menatap gemerlap bintang dan bulan purnama
Menikmati gelak tawa tiga bocah yang mengoceh
Tanpa sadar, suaranya mulai memudar
Mereka disana, mengunyah sepotong kue yang mereka bawa
Tergerak kaki melangkah menghampiri
Enam pasang mata kuat menatapku
Duduk dan nikmati makananmu, celetuknya
Tergertak halus
Senyum menyeringai
Tertampar pedih
Pilu menahan malu
Yang sepele terabaikan
Aku tersadar, sikap diri tak sejalan perintahNya
Karena tiga bocah di malam itu

 

Hilang

Dalam gumam bibir di ujung senja itu
Terlukis raut wajah sendumu meredup
Dua binar mata menunduk sayu

Habis masamu
Perempuan renta pembenci senja

Di bawah lampu jalan pinggiran kota
Himpunan kisah kau perdengarkan
Katamu, malam tak seramah dulu

Tiada lagu romantis pengiring keheningan malam
Hanya deru mesin yang menderu menunggu pagi
Gurat wajah dan lekuk nadi di tanganmu
Saksi bisu kerasnya merengkuh cita

Sepenggal Sajak Dua Puluh Tujuh Desember

Dengar, dengarkanlah sesaat lantunan sajakku ini
Dalam secerca cahaya yang berbias rintik-rintik hujan
Hujan yang teramat manis bagi perindu sepertiku
Di antara denting air hujan yang berbentur pada genting
Hendak kuutarakan keping rasa yang coba aku raup kembali
Kepadamu, yang berpisah di ujung hari bulan desember

Akankah dirimu masih mengingatku?
Dua puluh tujuh bulan terakhir setahun yang lalu
Kita pernah bersua, bertatap mata
Saling bergurau, berbagi cerita, merajut cinta
Bila kau lupa, cobalah untuk menerka
Aku si gadis cupu dalam penggalan drama masa kuliah
Yang disuguhkan di penghujung tahun waktu itu
Dan kau penabuh gendang di sisi panggung yang megah
Masihkah engkau berbayang dengan wajahku?

Di hari terakhir tahun lalu
Selepas gendangmu berhenti kau mainkan
Seusai baju pentas aku tanggalkan dan ruang gelap tanpa cahaya
Yang aku tahu, dalam surat berbungkus kertas abu-abu
Engkau akan kembali ke tanah kelahiran ibumu

Saat kau menjejakkan kaki di keramaian kota ini
Aku bukan lagi gadis lusuh dan pendiam seperti dulu
Memang pantas engkau pangling denganku
Kau tahu, keadaan teramat jeli mengubah pelik-pelik diriku
Menjadi wanita, yang katanya dewasa

Inilah puisi singkat untuk menggelitik kembali kenangan kita
Saat degup jantungku beranjak mengalun teratur
Aku menulis, selang 24 jam dari waktu kita bersua
Di setapak dengan naungan bunga merah muda yang tengah mekar
Merekah, merongga kembali
Sela rasa rindu dan cinta dari diriku yang masih menjejal
Cinta diriku yang merindu dan dirimu yang kembali
Engkau selalu membungkusnya dengan rapi
Dalam balutan saputangan yang pernah menutup lukamu

Bermula dua puluh tujuh bulan desember tahun ini
Akan ada segulung lembaran kain putih bersih
Terisi dengan coretanku denganmu
Seperti tahun lalu
Hingga suatu waktu
Dimana hari itu, kita terpisah kembali
Oleh takdir Ilahi, mati

Rindu yang Mendalam

Aku tertunduk, berpangku dalam sepi yang merenggut seluruh batinku
Mata yang semula berbinar, beranjak sayu dan meredup
Basah, mulai basah dengan titik air mata yang tak dapat kutahan lagi
Bibir beradu mencoba mengatup rapat
Entah, sudah sampai mana pikiranku menerawang
Hingga berbayang wajah-wajah manis yang seolah ada
Dari setiap memori yang berhasil terekam ke dalam pikiranku
Begitu dekat, hanya beberapa jengkal jari, bahkan tak ada
Mata mereka beradu tajam denganku
Tak pernah aku merasakan tatapan yang seperti ini
Namun, ketika aku mengulurkan tanganku padanya
Hendak menggapai lalu menyentuh dan memeluk mereka
Mereka lenyap, tinggal aku sendiri dalam ruangan seperti biasanya
Dan aku pun tersadar, lamunanku telah jauh berkhayal
Kehadiran mereka hanya ilusi karena kerinduanku

Rindu telah menjadi penguasa dalam tubuhku
Berbaur dengan darah
Menyusup setiap celah sempit dalam diri ini
Merenggut senyum
Aku melemah
Tak mampu mengembalikan bahagia dengan segala daya
Seteguk obat apapun tak dapat jadi penawar
Hanya satu
Pertemuan

Rindu kian mencengkeram dan terus menggila
Bagaikan racun yang telah menyebar
Menunggu waktu dimana ia menjadi perusak
Dan rindu adalah racun yang teramat menyiksa
Pelan
Menyakitkan

Aku mencob berdiri teguh
Bertopang dengan sisa kebahagiaan yang aku miliki
Aku tak mau kalah dan dikendalikan rindu
Merindu yang tetap kokoh
Karena aku percaya
Jika pertemuan bukanlah satu penyembuh untuk ini
Ada seribu cara
Dan ada Tuhan di setiap alur kehidupanku

Keyakinan

Pengap terasa, sesak napasku
Hingar bingar suaranya, menyeruak telinga
Sorot tajam tatapnya kuat menghujam
Inilah batu dan kerikil rupanya
Terpejam aku
Hendak mengadu, tiada lepas beradu
Suara lirih rintihku, hanya Dia yang tahu

Ayah…
Tak pernah enggan menopang bahuku
Atau sekedar tempat bersandar lemahnya tubuh

Ibu…
Mengusap tangis di pelupuk mata

Senyum lembut  mendekap gundah hatiku
Di antara tangis sendu dan gejolak pikir ini
Bergeliyat keyakinan menyusup sela lubuk hati
Lebih hangat menenangkan
Seolah bayang sosok yang muncul di hadapku
Lantas tersenyum dan bergumam
Tiada yang salah untuk merengkuh hijrahmu
Dan untukNya
Engkau mulia dengan menutup auratmu