Dengar, dengarkanlah sesaat lantunan sajakku ini
Dalam secerca cahaya yang berbias rintik-rintik hujan
Hujan yang teramat manis bagi perindu sepertiku
Di antara denting air hujan yang berbentur pada genting
Hendak kuutarakan keping rasa yang coba aku raup kembali
Kepadamu, yang berpisah di ujung hari bulan desember
Akankah dirimu masih mengingatku?
Dua puluh tujuh bulan terakhir setahun yang lalu
Kita pernah bersua, bertatap mata
Saling bergurau, berbagi cerita, merajut cinta
Bila kau lupa, cobalah untuk menerka
Aku si gadis cupu dalam penggalan drama masa kuliah
Yang disuguhkan di penghujung tahun waktu itu
Dan kau penabuh gendang di sisi panggung yang megah
Masihkah engkau berbayang dengan wajahku?
Di hari terakhir tahun lalu
Selepas gendangmu berhenti kau mainkan
Seusai baju pentas aku tanggalkan dan ruang gelap tanpa cahaya
Yang aku tahu, dalam surat berbungkus kertas abu-abu
Engkau akan kembali ke tanah kelahiran ibumu
Saat kau menjejakkan kaki di keramaian kota ini
Aku bukan lagi gadis lusuh dan pendiam seperti dulu
Memang pantas engkau pangling denganku
Kau tahu, keadaan teramat jeli mengubah pelik-pelik diriku
Menjadi wanita, yang katanya dewasa
Inilah puisi singkat untuk menggelitik kembali kenangan kita
Saat degup jantungku beranjak mengalun teratur
Aku menulis, selang 24 jam dari waktu kita bersua
Di setapak dengan naungan bunga merah muda yang tengah mekar
Merekah, merongga kembali
Sela rasa rindu dan cinta dari diriku yang masih menjejal
Cinta diriku yang merindu dan dirimu yang kembali
Engkau selalu membungkusnya dengan rapi
Dalam balutan saputangan yang pernah menutup lukamu
Bermula dua puluh tujuh bulan desember tahun ini
Akan ada segulung lembaran kain putih bersih
Terisi dengan coretanku denganmu
Seperti tahun lalu
Hingga suatu waktu
Dimana hari itu, kita terpisah kembali
Oleh takdir Ilahi, mati