Rindu yang Mendalam

Aku tertunduk, berpangku dalam sepi yang merenggut seluruh batinku
Mata yang semula berbinar, beranjak sayu dan meredup
Basah, mulai basah dengan titik air mata yang tak dapat kutahan lagi
Bibir beradu mencoba mengatup rapat
Entah, sudah sampai mana pikiranku menerawang
Hingga berbayang wajah-wajah manis yang seolah ada
Dari setiap memori yang berhasil terekam ke dalam pikiranku
Begitu dekat, hanya beberapa jengkal jari, bahkan tak ada
Mata mereka beradu tajam denganku
Tak pernah aku merasakan tatapan yang seperti ini
Namun, ketika aku mengulurkan tanganku padanya
Hendak menggapai lalu menyentuh dan memeluk mereka
Mereka lenyap, tinggal aku sendiri dalam ruangan seperti biasanya
Dan aku pun tersadar, lamunanku telah jauh berkhayal
Kehadiran mereka hanya ilusi karena kerinduanku

Rindu telah menjadi penguasa dalam tubuhku
Berbaur dengan darah
Menyusup setiap celah sempit dalam diri ini
Merenggut senyum
Aku melemah
Tak mampu mengembalikan bahagia dengan segala daya
Seteguk obat apapun tak dapat jadi penawar
Hanya satu
Pertemuan

Rindu kian mencengkeram dan terus menggila
Bagaikan racun yang telah menyebar
Menunggu waktu dimana ia menjadi perusak
Dan rindu adalah racun yang teramat menyiksa
Pelan
Menyakitkan

Aku mencob berdiri teguh
Bertopang dengan sisa kebahagiaan yang aku miliki
Aku tak mau kalah dan dikendalikan rindu
Merindu yang tetap kokoh
Karena aku percaya
Jika pertemuan bukanlah satu penyembuh untuk ini
Ada seribu cara
Dan ada Tuhan di setiap alur kehidupanku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *