Sejak pukul setengah empat sore, aku termenung di tepian jendela, menatap rintikan hujan yang semakin deras. Tetesan airnya jatuh perlahan, menimpa atap-atap rumah bergenting tanah. Tanah mengepul seketika air menyentuhnya. Debu berhamburan, lalu larut bersama air hujan. Hujan semakin deras. Ah, memang datangnya hujan menjadi candu rinduku sejak lama. Pun dengan orang-orang tetangga rumah. Kemarau panjang rupanya benar-benar menyengsarakan kehidupan, menyisakan tanah-tanah berdebu dan tandus.
Aku mendesah perlahan. Rasa hati teramat gundah mengharap kedatangannya. Tak kunjung juga, aku melihat kedua bola mata di wajahnya yang kukira sudah bertambah dewasa itu. Kapan engkau akan datang? Janjimu, pukul 4 sore engkau tiba di rumah. Dan jika benar, pasti telah aku buatkan secangkir kopi panas lengkap dengan pisang goreng kesukaanmu. Tetapi, bukankah engkau pun tahu, satu jam telah berlalu. Apa yang terjadi denganmu hingga engkau terlambat untuk menemuiku?
Sesaat kemudian, samar-samar aku melihat bayangannya di antara sela-sela derasnya air hujan. Tampak olehku, dia menenteng satu koper besar dan tas gendong di bahu. Sementara, payung biru tua digenggam erat dengan tangan kanan. Aku bergegas meninggalkan segelas teh yang telah aku seruput di atas bingkai jendela. Kusambar payung besar di sudut ruang untuk pergi menjemputnya.
Hawa dingin menyusup masuk ke dalam rumah kayu seketika pintu rumah ini terbuka. Dari kejauhan, aku dapat menangkap sorot mata tajammu. Masih setampan dulu, pikirku. Sekilas engkau tersenyum ketika aku berlari ke arahmu.
“Biar aku yang membawanya,” kataku.
Tersenyum. “Engkau sudah lama menungguku?” bisiknya sambil menggigil kedinginan.
“Sudahlah. Tak apa, yang terpenting, engkau telah memenuhi janji untuk menemuiku. Mari kubantu membawa barangmu dan bergegas masuk.”
Dengan sigap, tangannya menepis tanganku yang mencoba meraih kopernya.
“Engkau perempuan. Tas ini tak seringan yang engkau bayangkan. Biar aku saja” Dia tersenyum.
Tanpa berpikir panjang, dia berjalan meninggalkan aku yang masih terganga.
“Mengapa tetap berdiri disana? Ayo, hujan semakin deras.”
Ditemani dengan segelas kopi hitam panas dan sepiring pisang goreng, kami duduk terpaku dalam diam. Senyum yang baru saja mengembang dari bibirnya itu, seolah ikut tersapu derasnya air hujan. Baik aku maupun dia, tak ada satupun yang mencoba memulai pembicaraaan terlebih dulu. Suasana berubah tegang. Satupun tak ada yang mampu menatap. Membisu. Terbenam dalam pikiran masing-masing.
“Makanlah selagi pisang goreng itu masih hangat. Atau engkau bisa menyeruput secangkir kopi buatanku. Setidaknya, kopi itu pun mampu mengurangi rasa dingin di tubuhmu.”
Aku mendongak. Sementara dia tetap tak bergeming. Dari tempatku duduk, dapat kulihat jelas tubuhnya gemetar. Dia kedinginan.
“Aku akan mengambilkanmu handuk. Tunggu sebentar.”
Tak disangka, dia justru memegang pergelangan tanganku.
“Duduklah. Aku tak akan lama berada disini.”
“Mengapa? Engkau tak suka bersama denganku?”
Dia menggeleng.
“Aku harus pergi.”
Diam. Kembali terdiam. Dan aku pun tak bertanya lebih lanjut. Ya, ucapan yang teramat pendek, namun sudah cukup membungkamku.
Entah. Aku pun tak dapat menerka sesuatu hal yang tengah dia pikirkan.
Sore itu, dia bukan lelaki periang dan romantis seperti yang aku kenal sebelumnya. Lelaki yang setiap hari tak pernah lupa menanyakan kabarku, lelaki yang teramat suka mengumbar kalimat romantisnya, kini berubah menjadi lelaki kaku dan bersikap dingin padaku. Sejauh aku mengenalnya, seberat apapun masalah yang dipikulnya, sebesar amarahnya, dia tak akan bertingkah seperti ini.
“Mengapa engkau diam? Tak sedikitpun engkau menunjukkan sikap bahwa kita berdua tengah berbicara. Engkau marah?”
“Engkau tak suka aku seperti ini?” nadanya meninggi.
“Ada apa? Mengapa engkau justru membentakku?” aku mengernyitkan dahi, kebingungan.
“Aku tak punya banyak waktu. Aku hanya ingin kita mengakhiri hubungan ini!”
Aku terbelalak. Tak percaya dengan apa yang diucapkannya.
“Putus? Apa ada yang salah denganku hingga engkau ingin mengakhirinya? Jika aku ada salah, engkau sampaikan saja. Biar aku perbaiki. Dan bukankah engkau mencintaiku? Engkau pun tahu bahwa aku teramat mencintaimu!” mataku mulai memerah, seiring dengan kemelut rasa yang tak karuan.
“Tak ada yang perlu aku jelaskan lagi. Kita berbeda Din! Dengan cinta itu pun tak akan cukup untuk mempersatukan kita!”
Tangannya bergerak cepat merogoh sesuatu dari balik tas gendongnya. Kotak yang terbungkus rapi dengan kertas kado warna jingga tanpa pita disodorkan kepadaku.
“Ambillah. Semoga ini mampu memperjelas maksudku. Aku harus segera pergi!”
Aku sudah tak mampu menahan air mata. Rasa pedih yang teramat sakit itu seolah menjadi lambang dalamnya dia menghunuskan belatinya ke hatiku. Semua rasa cinta yang aku miliki, seketika hancur berkeping-keping. Semua sirna, disaat hujan masih belum reda.
Dia berdiri dari tempat duduknya. Membetulkan posisi tas gendong di punggungnya.
“Tunggu!”
Aku mendongakkan kepala. Berdiri di hadapannya. Mencoba mencari arah tatapan kedua mata lelaki itu. Tanpa disangka, kulihat matanya memerah. Dia berusaha menahan tangis.
“Beri aku kejelasan tentang semua ini, Dim!” aku memukul keras bahu kanannya.
“Semua penjelasan ada di dalam kotak itu, Din. Buka saja!”
Dia merunduk. Tangan kanannya meraih ganggang kopernya.
“Biarkan aku pergi!”
Dalam isakan tangis itu, aku mencoba mencegahnya pergi.
“Tunggulah. Setidaknya sampai hujan ini reda.”
Aku melepas kedua tanganku dari bahunya. Mengusap air mata. Duduk dan diam.
Dia menuruti permintaanku tanpa bicara. Bahkan, dia tak menatapku sama sekali. Kurasa, hanya untuk menoleh pun dia enggan. Ya, sampai detik ini kami masih sama-sama diam. Isakan tangis pun seolah tak terdengar. Dibiaskan gemericik air hujan yang semakin deras.
Angin berhembus semakin dingin. Merebak masuk ke rumah. Berpadu dengan lara hati yang menyakitkan itu.
Kotak jingga darinya sengaja aku biarkan teronggok di meja. Di dekat segelas kopi yang belum diseruputnya sama sekali. Biarlah dia menjadi teman kopi yang menjadi saksi bisu kisah pahit ini. Aku masih enggan membukanya. Bagiku, akan lebih sakit jika nantinya aku tahu alasan keputusannya. Sementara, dia masih duduk di bangku hadapanku.
Ah, aku menghela napas yang terasa makin sesak.
“Aku pergi sekarang saja. Lupakan aku. Cintailah lelaki lain yang tulus mencintaimu juga. Jangan berharap kepadaku dan jangan pernah menemuiku lagi!”
Dia bangkit. Menenteng kopernya. Melangkah pergi meninggalkan aku yang masih terisak tanpa menoleh sedetikpun.
“Pergilah!”
Dengan tegas, aku membentak lelaki itu. Semua rasa marah yang sedari tadi aku tahan, aku tumpahkan kepadanya. Pergi. Biar dia pergi sesuka hatinya. Rasa sakit yang baru saja dia berikan menjadi pemicu kebencianku kepadanya. Mengapa harus aku? Jika memang selama ini dia tak mencintaiku, maka seharusnya aku tak dipertemukan dengannya. Dan dia tak perlu memperlakukanku semanis dulu. Apa salah bila pada akhirnya aku mencintainya setulus hati?
Aku pikir, aku adalah perempuan bodoh yang dengan mudahnya mencintai seseorang. Perempuan yang seakan gampang terbujuk rayuan manis lelaki. Dia yang datang dan mengenalkan cinta kepada perempuan lugu sepertiku. Lantas, dia pula yang mengakhiri semuanya. Mengkandaskan semua perasaan cinta yang telah merekah di hati.
“Sudahlah, Din. Tak perlu membuang air mata untuk lelaki seperti dia,” suara Ibu memecah keheningan.
Ibu berjalan menghampiri. Duduk merapat di sampingku. Tangannya merangkul kedua bahu. Aku bersandar pada tubuhnya yang penuh kehangatan. Ibu. Dan mungkin hanya Ibu yang mengerti keadaanku sekarang. Hanya Ibu pula yang mengizinkan aku menjalin hubungan dengannya. Bagaimana dengan Ayah? Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor yang menyita sebagian besar waktunya. Walaupun, beliau tak pernah lupa untuk sesekali menanyakan perkembangan sekolahku atau menyiapkan waktu untuk berlibur bersama.
“Dina, berhentilah menangis. Menangis tak akan menyelesaikan masalahmu. Jika memang lelaki itu datang kepadamu karena cinta, maka dia tak akan meninggalkanmu seperti ini. Sedikitpun, dia tak akan membuatmu menangis. Engkau tak perlu risau disakiti atau diabaikan oleh lelaki yang hanya mengumbar rayuannya. Sudahlah. Tak ada gunanya menangis, Din. Engkau harus buktikan, bahwa engkau adalah perempuan yang tegar. Jadilah wanita yang sholehah, pantaskanlah dirimu. Engkau masih ingat bukan bahwa jodoh, maut, dan rezeki itu Allah telah mengaturnya. Ibu yakin, suatu saat akan ada lelaki yang dengan serius mencintaimu, lelaki yang akan memperjuangkanmu dan dengan keseriusannya itu, dia akan berani melamarmu,” kata Ibu dengan suara lembut.
Ada kehangatan dan kepercayaan diri yang menyeruak setiap sisi tubuh ini. Aku harus bangkit. Aku harus menjadi perempuan yang kuat seperti kata Ibu.Tanpa sadar, aku berhenti menangis. Mendekap dan menenggelamkan separuh tubuhku ke dalam pelukan hangatnya.
Kini, ingatan itu kembali, sepuluh tahun selepas kejadian menyakitkan itu. Ketika senja yang sama tiba, aku memberanikan diri untuk membuka kotak jingga yang aku simpan di laci meja kamar. Aku menghela napas. Menenangkan dan memberanikan diri untuk membukanya.
Sebuah cincin permata dan secarik kertas. Aku mengernyitkan dahi. Seingatku, seseorang memiliki cincin permata serupa dengan cincin ini. Siapa? Hingga aku pun tersadar, bahwa cincin itu sama seperti cincin yang disimpan di kotak hitam milik suamiku. Mungkinkah?
Aku tak percaya. Lelaki yang menjadi suamiku adalah sabahat lelaki yang pernah menanamkan rasa sakit di akhir senja sepuluh tahun yang lalu.
… Dari hati ini, aku tak pernah yakin bahwa kita akan mampu untuk bersama. Kita sudah berbeda, Dina. Meskipun sekeras apapun perjuangan kita untuk bersatu, namun, semua tak akan berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kita memiliki keyakinan kuat yang berbeda, Din. Merubahnya akan menjadi hal tersulit bagiku. Demikian halnya denganmu.
Din, aku bukanlah lelaki yang tepat untukmu. Aku memilih pergi dan melepasmu, bahkan hingga membuatmu menangis. Percayalah. Suatu waktu engkau akan bertemu dengan lelaki yang pantas mendampingimu, yang sejalan dengan pemikiranmu. Jika pilihanku tepat, maka engkau akan menemukan pasangan dari cincin yang aku berikan kepadamu. Aku harap, engkau akan bahagia dengannya…
Bahuku berguncang. Aku menangis lagi. Entah aku harus bahagia atau sedih dengan semua ini. Sebuah skenario yang teramat rapi dan tak pernah aku duga sebelumnya.
Kini, aku telah bersanding dengan lelaki yang dipertemukan dari pilihan lelaki yang pernah mencintai sekaligus menyakitiku. Lelaki pilihannya benar-benar membuatku lupa akan rasa sakit yang pernah menyiksaku beberapa tahun lalu. Dan di ujung senja ini, semuanya menjadi lebih indah. Satu pintaku, aku harap engkau pun bahagia dengan perempuan dari tulang rusukmu. Meskipun tak bisa kupungkiri, rasa sakit itu masih tetap sama, yang akan terasa perih saat mengenangmu.